Hal itu dipaparkan Fahri usai melakukan kunjungan di kawasan masyarakat perbatasan di Kabupaten Nunukan dan Kabupaten Malinau, Kalimatan Utara. Kunjungan itu dilakukan bersama anggota tim pengawas lainnya yakni Arteria Dahlan, Agung Widyanroto dan Hetifah Syaifudian, pada 24—26 November.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Wakil Gubernur Kalimantan Utara (Kaltara) Udin Hingio mengatakan percepatan pembangunan di wilayah perbatasan seiring tekad pemerintah untuk membangun wilayah pinggiran.
“Kaltara memiliki wilayah yang sangat luas dan infrastrukturnya belum sepenuhnya mendukung percepatan pembangunan,” kata dia.
Negara Tetangga
Tim Pengawas itu juga menemukan ketergantungan warga di perbatasan terhadap kebutuhan pokok yang banyak disuplai dari negara tetangga. Tak hanya itu, namun juga biaya hidup yang mahal karena sarana perhubungan antardesa dan kecamatan yang minim.
Karena itu, diperlukan kebijakan khusus agar biaya transportasi antarwilayah bisa ditekan.
Biaya transportasi mahal akibat harga bahan bakar minyak tinggi. Konsumen yang perlu mendapatkan bensin bersubsidi harus mengeluarkan Rp9.000 per liter. Sedangkan untuk bensin nonsubsidi Rp12 ribu per liter. (asa)