Koordinator Nasional JPPR Masykurudin Hafidz menyebut yang pertama yaitu ucapan intimidatif dan saling serang dengan materi pemberitaan bohong atau hoax dengan menggunakan teknologi informasi dan media sosial serta materi kampanye negatif tanpa sumber menyebar tanpa filter.
"Penyebaran kampanye negatif tersebut sama sekali tak dapat diantisipasi apalagi ditindak oleh Bawaslu beserta jajarannya. Instrumen pengawasan yang disediakan jelas tak cukup mampu mengimbangi kecepatan penyebaran kampanye negatif tersebut, perlu banyak pihak yang harus diajak bekerja sama," kata Masykurudin dalam keterangan tertulisnya, Minggu (5/2).
Lihat juga:Anies Minta Para Pendukung Awasi Kecurangan |
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Tepat jumlah berarti jangan sampai ada logistik yang mengalami kelebihan atau kekurangan karena jelas akan mengganggu proses pemungutan dan terdapat potensi penyalahgunaan," tuturnya.
Masykurudin mengatakan seluruh alat peraga dan bahan kampanye milik pasangan calon baik yang resmi atau pun yang tidak resmi sepatutnya sudah dibersihkan saat masa tenang.
"Kondisi ini untuk semakin membuat masyarakat pemilih nyaman dan menjamin kebersihan dan keindahan kawasan Pilkada," ujarnya.
Ia menyatakan apabila pada masa kampanye alat peraga kampanye masih berada dalam tempat publik maka akan menimbulkan potensi saling tuduh antar pendukung pasangan calon terhadap proses pembersihan alat peraga kampanye tersebut.
Keempat, kata dia, terkait dengan politik uang.
Masykurudin menilai dalam tensi perebutan suara pemilih yang cukup tinggi, proses politik transaksional baik pemberian uang atau barang dalam banyak modus bisa terjadi karena semakin mendekati hari pemungutan, cara mempengaruhi pilihan masyarakat semakin beragam.
Dalam menciptakan pelaksanaan pilkada yang berintegritas, menurut dia, semua pihak mempunyai tanggung jawab masing-masing.
"Penyelenggara pemilu perlu memastikan seluruh logistik pemungutan suara sudah siap dan petugas pelaksananya mempunyai pengetahuan yang memadai untuk melaksanakan tanggung jawabnya dengan kemandirian yang tinggi,” katanya.
"Ajarkan para pendukung dan didik masyarakat pemilih untuk menentukan pilihan berdasarkan program yang disajikan, bukan dengan menyebar fitnah apalagi dengan politik uang," ujarnya.
Pilkada serentak 2017 akan diikuti oleh 101 daerah dari tingkat provinsi, kabupaten, dan kota.
(obs)