Pergantian kekuasaan dari Presiden ke-6 SBY menuju Presiden Joko Widodo saat ini, tak juga menjadi angin segar bagi partai berlambang bintang merci, Demokrat.
Deretan petinggi dan politikus muda 'dibabat habis' menjelang perpindahan kekuasaan oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Andi Malarangeng, Anas Urbaningrumm, Angelina Sondakh, M Nazaruddin, Jero Wacik, hingga mendiang Soetan Batoeghana.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tidak ada posisi netral dalam demokrasi, perlu ada garis tegas: apakah mendukung atau mengkritisi pemerintah. Kondisi tersebut membuat partai ini seakan bijaksana, alih-alih pragmatis dalam berpolitik.
Demokrat praktis kehabisan anggota muda, kader matang yang sedari awal partai berdiri.
Melihat kondisi saat ini, paling logis dan realistis bagi Demokrat adalah memainkan Agus Harmurti Yudhoyono yang terkapar di Pilkada Jakarta 2017.
Meski kalah, pesta demokrasi Jakarta adalah ajang pengenalan sosok Agus yang mau tidak mau, suka tidak suka, dikenal publik secara nasional.
Raupan 17 persen suara di Pilkada DKI putaran pertama adalah angka yang lumayan untuk seseorang yang nol pengalaman di dunia politik seperti Agus.
Lihat juga:AHY Sebut Pilkada DKI Berjalan Bermartabat |
Paling anyar, Agus ikut berkeliling di Kepulauan Riau pekan ini.
"Kontes Pilkada Jakarta membuat Agus dikenal. Ini cara cepat dan efektif. Siapa lagi yang Demokrat punya?" kata pengamat politik Universitas Paramadina, Djayadi Hanan kepada CNNIndonesia.com, Rabu (26/4).
Tapi ini jadi benturan keras bagi Demokrat yang seharusnya bercermin diri atas kehilangan kader-kader mereka. Ada apa dengan partai ini, apakah ini Demokrat atau 'Partai Cikeas'?
Ketua Divisi Komunikasi Publik DPP Demokrat Imelda Sari, kepada CNNIndonesia, enggan membenarkan jika kemungkinan Agus menjadi pimpinan partai karena faktor darah SBY yang mengalir.
"Tentu buat Demokrat, faktor Mas Agus buat kami bagus ke depan. Kapan itu? Kita lihat nanti," ucapnya.
Sejauh apa Agus mampu? Memang waktu yang akan menjawab. Namun dengan usia Agus di panggung politik yang baru seumur jagung, langkah SBY mengkader Agus sangatlah wajar. Setidaknya hingga dia berada di posisi Demokrat 1.
Apa target selanjutnya? Presiden? Terlalu berat bagi Agus menanggung ambisi politik Cikeas.