"Dalam dewan pengarah ada Bu Mega yang punya unsur historis. Masa seseorang yang punya kaitan dengan unsur historis tidak ada di situ, rasanya kurang elok. Bu Mega bukan sebagai unsur partai, tapi dalam kapasitas dari pendiri Republik, representasi perumus Pancasila," kata Yudi di kantor Kemenpan RB, Jakarta Pusat, Kamis (1/6).
Secara keseluruhan, kata Yudi, dewan pengarah beranggotakan sembilan orang yang terdiri dari dua orang tokoh nasional dan tujuh orang tokoh lintas agama. Wakil Presiden keenam Try Sutrisno menjadi salah satu tokoh nasional bersama Mega.
Kemudian Ketua Umum MUI Ma'aruf Amin, Ketua Dewan Pertimbangan MUI Din Syamsudin, Mantan Ketua MK Mahfud MD, Mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah Buya Syafii dan Tokoh Katolik Franz Magnis Suseno akan mengisi kursi tokoh agama.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Yudi menjelaskan di bawah dewan pengarah akan ada kepala eksekutif unit satuan kerja. Kepala eksekutif tersebut akan membawahi tiga deputi. Bagian tiga deputi akan dijelaskan ketika pelantikan.
Lihat juga:Menghidupkan Pancasila di Era Jokowi |
Setelah resmi dilantik, unit kerja tersebut akan fokus pada tiga hal untuk langkah awal. Pertama, ikut menyiapkan konten dan metodologi pelajaran Pancasila dan kebangsaan di dunia pendidikan. Menurut Yudi hal ini penting karena memiliki dampak jangka panjang.
Ketiga, pengukuran dan pemantauan terhadap lembaga pemerintah. Unit kerja akan melihat kebijakan dan perilaku lembaga pemerintah apakah sudah sejalan dengan pemerintah atau tidak.
Sementara itu, Yudi sendiri sempat digadang-gadang menjadi kepala unit kerja tersebut. Namun ia tidak menjawab dengan pasti saat dikonfirmasi. "Ya, saya tidak tahu pasti, kalau selentingan memang ada," kata Yudi.
Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Wiranto menyatakan, pembentukan lembaga atau badan pemantapan Pancasila yang sempat digagas pada awal tahun ini sudah ditandatangani Jokowi.
"(Pembentukan Badan Pemantapan Pancasila) segera. Sudah ditandatangani Presiden," kata Wiranto di Gedung DPR, Jakarta.
Meski demikian, Wiranto mengaku belum mengetahui kapan lembaga tersebut akan diumumkan. Dia berkata akan menanyakan hal itu terlebih dahulu kepada Presiden Jokowi.