Ahok, sapaan Basuki, mengundurkan diri setelah majelis Hakim Pengadilan Negeri Jakarta Utara memberikan vonis dua tahun penjara karena terbukti melanggar Pasal 156a KUHP tentang penodaan agama.
Djarot bukan pemain baru di panggung politik dan birokrasi. Jauh sebelumnya, dia telah aktif memimpin organisasi dan daerah. Di politik, Djarot meniti kariernya sejak masih mahasiswa di Universitas Brawijaya, Malang.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Djarot juga memiliki pengalaman segudang sebagai pejabat publik. Ia pernah menjadi Wali Kota Blitar. Tak tanggung-tanggung, jabatan itu ia sandang selama dua periode atau 10 tahun, dari 3 Mei hingga 3 Agustus 2010.
Lihat juga:Cerita PNS DKI yang Kehilangan Sosok Ahok |
Sebagai gubernur pengganti, masa jabatan Djarot memang terbilang sangat singkat. Terhitung sejak hari ini, Djarot hanya akan mengemban tugas sebagai gubernur hingga pertengahan Oktober mendatang.
Praktis Djarot hanya punya waktu sekitar sekitar lima bulan untuk melanjutkan kepemimpinan Ahok.
Djarot, menurut Mada, hanya akan meneruskan dan menuntaskan program-program yang sudah ada sebelumnya.
"Jadi hanya sekedar rutin menjalankan administrasi pemerintahan, tidak bisa membuat kebijakan yang strategis, termasuk misalnya membuat program baru, proyek baru, kegiatan baru, melakukan mutasi dan promosi," kata Mada kepada CNNIndonesia.com, Rabu (14/6) malam.
Djarot saat uji coba Koridor 13 TransJakarta rute Ciledug-Tendean. (CNN Indonesia/Filani Olyvia) |
Keterbatasan wewenang dan masa jabatan memang akan menjadi kerikil dalam masa kepemimpinan Djarot. Terlebih, masih banyak pekerjaan rumah yang harus dituntaskan Djarot.
Lihat juga:Djarot: Ahok Bagian yang Tak Bisa Dipisahkan |
Untuk persoalan kemacetan saja, Dinas Perhubungan DKI Jakarta pada 2016 mencatat kerugian masyarakat akibat kemacetan di sejumlah wilayah Jakarta mencapai Rp150 triliun per tahun.
Kerugian finansial juga dialami Jakarta untuk masalah banjir yang selama kepemimpinan Ahok-Djarot, sampai hari ini, belum mampu diatasi
Dari sekian banyak pekerjaan rumah tersebut, Djarot harus bisa menyelesaikan salah satunya. Ini penting untuk menutup rezim pemerintahan Ahok dengan cara yang positif.
Menutup rezim dengan cara positif juga dapat berimplikasi pada citra partai pendukung Ahok-Djarot, terutama Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan yang tengah bersiap menghadapi Pilkada serentak 2018 dan Pemilu Presiden 2019.
Djarot saat uji coba Koridor 13 TransJakarta rute Ciledug-Tendean. (CNN Indonesia/Filani Olyvia)