Pria yang akrab disapa Kang Emil itu pun mempertanyakan hasil survei yang dilakukan Tim Peneliti Program Pascasarjana (PPs) kampus yang berada di Bandung itu.
"Cuma ada satu statement yang agak aneh popularitas menurun. Dalam logika survei tidak ada orang yang dulunya kenal tiba-tiba menjadi tidak kenal. Kalau elektabilitas menurun betul," ujar Ridwan di Bandung, Rabu (5/7) seperti dikutip dari Antara.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Jadi tidak ada dalam keilmiahan survei yang namanya popularitas menurun, begitu saja. Kalau elektabilitas bisa dipahami setelah kenal kan ada orang suka, ada kenal tidak suka," kata dia.
Wakil Gubernur Jawa Barat Deddy Mizwar. (ANTARA FOTO/Wahyu Putro A) |
"Ya, artinya survei itu diterima sebagai bahan evaluasi tapi khusus survei yang diberitakan kemarin ada sedikit pertanyaan yang enggak masuk ke logika saya yaitu faktor statement bahwa popularitas menurun itu aja," katanya.
Sebelumnya, PPs UIN SGD Bandung merilis hasil survei pemilihan kepala daerah berdasarkan tingkat popularitas dan elektabilitas dengan mengambil sampel 5.000 warga Jawa Barat yang sudah memiliki hak pilih.
Selain itu, tiga bakal calon lainnya mengalami pergeseran yakni Dede Yusuf meningkat dari 15,68 persen menjadi 17,41 persen, Iwa Karniwa meningkat dari 8,99 persen menjadi 13,88 persen, dan Dedi Mulyadi meningkat dari 10,70 persen menjadi 11,60 persen.
Untuk tingkat elektabilitas, Ridwan Kamil yang semula 55,1 persen menjadi 40 persen, Deddy Mizwar dari 16,30 persen menjadi 22,38 persen pada survei kedua. Kemudian Dede Yusuf dari 11,68 persen meningkat menjadi 12,57 persen, Iwa Karniwa dari 2,55 persen menjadi 10,44 persen dan Dedi Mulyadi meningkat dari 6,17 persen menjadi 10,08 persen pada survei kedua.
Wakil Gubernur Jawa Barat Deddy Mizwar. (ANTARA FOTO/Wahyu Putro A)