"Kita berkaca pada pengalaman partai politik di Pemilu 2014 mengalami tren perubahan akibat korupsi. Demokrat sebagai partai pemenang di 2009 langsung turun ke nomor empat karena banyak kadernya terjerat korupsi," ujar Almanzo dalam keterangan tertulisnya, Senin (18/9).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurutnya, 'drama' yang dilakukan Setnov ini membuat proses penyidikan di KPK terhambat. Situasi ini juga menghambat proses konsolidasi internal di Partai Golkar guna meningkatkan elektabilitasnya kembali.
Lihat juga:Akbar Tandjung Ingatkan Setnov Hormati Hukum |
Sementara itu Sekjen Partai Golkar, Idrus Marham tak membantah elektabilitas Partai Golkar menurun drastis karena terpaan korupsi yang menjerat ketua umumnya.
Saat ditemui di DPP Partai Golkar, Kemanggisan, Jakarta Barat pada Senin (18/9), Ia menjelaskan partainya sedang melakukan kajian internal untuk merespon turunnya elektabilitas ini.
KPK menetapkan Setya Novanto sebagai tersangka dalam kasus dugaan korupsi e-KTP. Setnov diduga menerima fee Rp574 miliar dari proyek yang menelan anggaran negara sebesar Rp5,9 triliun tersebut.
Setnov dijerat dengan Pasal 3 atau Pasal 2 ayat 1 Undang-Undang Nomor 31 tahun 1999 sebagaimana diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 tahun 2002 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (UU Tipikor) juncto Pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHP.