Fenomena badai matahari terjadi pada Jumat (12/9) pekan lalu dan menghasilkan semburan warna warni berupa aurora di langit.
Warga bernama Youvathana Sok melaporkan melalui CNN iReport, ia melihat semburan dari pegunungan Cadillac, Taman Nasional Acadia, Amerika Serikat.
Para ahli mengatakan telah terjadi kombinasi dua energi pada matahari sehingga menyebabkan letupan. Bahkan mereka memprediksikan dalam waktu dekat ini akan terjadi badai geomagnetik yang kuat, namun lembaga antariksa NASA memastikan bahwa hal ini tidak akan memengaruhi kehidupan di bumi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Beberapa pihak mengkhawatirkan ledakan ini akan memengaruhi sinyal komunikasi pada ponsel, pesawat terbang, dan radio komunikasi lainnya. Namun, NASA telah melakukan pencegahan yaitu dengan menonaktifkan sensor sensitif pada satelit di ruang angkasa.
Peristiwa ledakan magnetik ini seringkali dikaitkan dengan solar flare, sebuah letupan api yang berasal dari matahari dan menjadi ledakan paling besar di tata surya. Menurut NASA, sepanjang sejarah telah terjadi dua kali ledakan gas magnetik ruang angkasa yang paling besar.
Sebelumnya, badai matahari pernah terjadi pada 13 Maret 1989 dan memberikan dampak cukup mengejutkan bagi kehidupan di bumi. Badai ini memutuskan aliran listrik untuk seluruh provinsi Quebec di Kanada selama 12 jam dan memengaruhi jaringan listrik di Amerika Serikat.