Pesawat antariksa tanpa awak Maven yang telah memasuki orbit planet Mars diharapkan dapat memberikan banyak informasi untuk memecahkan misteri hilangnya air yang pernah merendam planet ini.
Pesawat Maven tidak diluncurkan untuk mendarat di permukaan planet melainkan untuk terbang mengelilinginya.
Sejak 40 tahun lalu, NASA telah mengumpulkan banyak bukti yang menyatakan Mars pernah memiliki kapasitas air yang besar dan mengalir di planet merah itu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Berdasarkan hasil penjelajahan Mariner 9, peneliti memiliki dua prediksi besar mengenai kondisi air di Mars, yaitu air meresap ke dalam tanah di permukaan planet, atau air terdorong oleh tekanan hingga ke ruang angkasa.
NASA meluncurkan Maven pada November 2013 dari Cape Canaveral, Florida. Maven—singkatan dari Mars Atmosphere and Volatile Evolution Mission— akan mengelilingi selama setahun ke depan untuk keperluan pengumpulan data para ilmuwan.
Pusat kendali penerbangan Maven yang berada di Colorado akan menghabiskan enam pekan ke depan menyesuaikan ketinggian Maven dan memeriksa instrumen ilmu pengetahuan yang ada di sana, serta mengamati komet yang melesat dengan jarak di relatif dekat.
Lembaga antariksa Eropa (ESA) dan lembaga antariksa Amerika Serikat (NASA), sebelumnya telah melaksanakan misi ke Mars untuk mencari air di Mars. Esa dengan mesin penjelajah Marsi dan NASA dengan Sharad, berhasil menembus hingga lima kilometer tanah Mars. Sayangnya, misi ini tidak menemukan bukti bahwa air meresap ke dalam permukaan tanah.
ESA menemukan bahwa cahaya matahari dapat menembus orbit Mars dan hal ini diproyeksi bisa menjadi faktor yang menghilangkan sebagian besar air di planet ini.
Sebelumnya, NASA telah mengirim kendaraan antariksa Curiosity yang telah berada di Mars selama lebih dari dua tahun. Kendaraan yang disertai dengan kamera ini sempat memotret tanah di Mars yang mirip dengan wilayah gurun di Bumi.