Perolehan BlackBerry tak juga membaik di 2014. Berdasarkan catatan IDC, selama enam bulan penjualan di 2014 BlackBerry hanya mengantongi tiga persen dari total pasar ponsel pintar.
Kuat dugaan, BlackBerry mulai sulit bersaing dengan Samsung yang hingga kini masih mendominasi penjualan ponsel di Indonesia. Belum lagi pesaing dari ponsel 'murah' seperti Evercoss, Advan atau bahkan Smartfren.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"BlackBerry adalah produk kelas dunia, Waterloo hanya salah mengelolanya," kata Andrew, seperti dikutip dari The Globe and Mail, Senin (10/11).
Keputusan itu konon ditentang oleh BlackBerry Indonesia. Namun tetap saja dilakukan hingga akhirnya menimbulkan kerusuhan akibat antrean yang membludak.
Namun bukan cuma di Indonesia, secara keseluruhan BlackBerry juga sedang mencari cara baru memacu pertumbuhan. Salah satunya BlackBerry akan meluncurkan peranti lunak keamanan dan manajemen perangkat mobile, BES 12, pekan ini. Sistem tersebut memungkinkan perusahaan dan instansi pemerintah untuk mengelola dan mengamankan bukan hanya perangkat BlackBerry pada jaringan internal mereka, tetapi perangkat bersistem operasi Android, iOS, dan Windows Phone.
Pada bulan Desember, perusahaan akan meluncurkan BlackBerry Classic, sebuah perangkat yang mirip dengan ponsel seri Bold di masa lalu. Namun tetap saja, langkah itu belum menjamin pertumbuhan bisnis BlackBerry di Indonesia.
Indonesia sendiri masih masuk dalam empat besar negara prioritas Blackberry. Bahkan dibanding negara berkembang lainnya, CEO BlackBerry John Chen menganggap Indonesia sebagai 'anak emas'. Hal ini dibuktikan dengan kadatangannya beberapa waktu lalu demi memperkenalkan BlackBerry Jakarta.