Tokyo University dan Institute of Polar Research Jepang melakukan penelitian mengenai cuaca dingin tersebut. Mereka mengungkapkan bahwa cuaca dingin menjadi bukti dari perubahan iklim jangka panjang, serta menguatkan fenomena pemanasan global itu sendiri.
"Musim dingin yang parah di kawasan Eurasia adalah pemanasan global," ujar Masato Mori, seorang profesor sekaligus pemimpin penelitian, seperti dikutip dari The Telegraph.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Jurnal ilmiah Nature Geoscience yang dipublikasikan oleh tim Mori menjelaskan fenomena mencairnya es membuat perairan terbuka menyerap banyak panas. Semakin hangat air, maka ia turut menghangatkan udara di atasnya. Proses udara yang semakin hangat tersebut melemahkan jet stream, hembusan angin kecepatan tinggi mencapai 100 kilo meter per jam yang mampu memengaruhi cuaca.
Colin Summerhayes dari Scott Polar Research Institute di Cambridge, Inggris, juga menyatakan bahwa fenomena musim dingin yang terjadi seperti yang dijelaskan di atas, memang menumbuhkan persepsi dari masyarakat bahwa pemanasan global telah usai. Pada kenyataannya, musim dingin tak menentu menjadi sebuah pertanda dari fenomena pemanasan global.
Akhir tahun 2013 lalu, salju sempat turun di lokasi yang tak terduga, diantaranya Arab Saudi, Mesir, Lebanon, hingga Vietnam.