Mahasiswa-mahasiswi ini berasal dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Universitas Gadjah Mada (UGM), Universitas Indonesia (UI), Universitas Diponegoro (Undip), Institut Teknologi Sepuluh November Surabaya (ITS), dan Universitas Telkom.
Selama dua pekan, sejak 8 Desember 2014, Huawei mengajak 15 mahasiswa untuk mengunjungi kantor mereka yang berada di kota Beijing, Shanghai, dan Shenzhen.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kami dikenalkan dengan alat-alat terbaru. Program seperti ini akan membantu kami menentukan fokus keahlian," kata mahasiswa yang kini berusia 26 tahun tersebut kepada CNN Indonesia.
Beberapa mahasiswa yang ikut program macam ini, disebut Holy, bahkan direkrut menjadi karyawan Huawei karena perusahaan meliha mahasiswa tersebut punya potensi besar.
Perusahaan yang didirikan pada 1987 tersebut kini memiliki 16 pusat R&D, termasuk di Perancis, Rusia, Swedia, India, hingga Amerika Serikat. Di negara asal, Huawei memiliki pusat R&D di kota Shenzhen dan Shanghai.
Departemen R&D inilah yang kemudian menjadi perhatian besar mahasiswa Indonesia. Mahasiswa teknologi informasi dari ITS, Putu Harum Bawa, berpendapat bahwa departemen ini akan menjadi penentu masa depan produk atau layanan sebuah perusahaan.
"Ketika melihat ada kesempatan di masa mendatang, sudah seharusnya perusahaan meneliti kesempatan itu dan mencari keunggulan tersendiri bagi produknya," tegas Putu yang berasal dari Bali.
Huawei menganggarkan setidaknya 10 persen dari total belanja modal tahunan untuk divisi penelitian dan pengembangan.
Pada 2013, Huawei menganggarkan sebesar US$ 5,1 miliar untuk penelitian 5G yang diharapkan bisa mendukung bisnis di masa depan.