Tapi Space Exploration Technologies Corporation atau yang lebih dikenal dengan nama SpaceX ingin mengubah ‘tradisi’ itu. “Penggunaan ulang adalah terobosan yang diperlukan dalam bidang roket,” kata Elon Musk, bos SpaceX.
Platform pendaratan terapung. (Dok. SpaceX) |
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Setelah pendorong di tingkat pertama melaksanakan tugasnya lalu memisahkan diri dari tingkat kedua yang melanjutkan membawa kargo ke ISS, maka mesin di tingkat pertama akan menyala kembali, membuatnya memutar dan membawa badan roket itu ke titik pendaratan yang mengapung di 200 mil di timur Jacksonville, Florida.
"Kami berhasil melakukan pendaratan yang lembut di lautan dua kali sejauh ini, berdiam di sana beberapa detik, tapi tidak lama kemudian meledak, sehingga tidak bisa digunakan lagi," kata Musk.
Tingkat pertama sebuah roket memiliki tinggi yang hampir sama dengan bangunan 14 lantai. "Yang harus kami lakukan adalah mendaratkannya pada sebuah platform terapung," kata Musk lagi.
Bagaimana roket bisa memutar balik dan dikendalikan ke platform pendaratan?
Kuncinya ada pada sirip grid yang terlipat saat meluncur ke atas dan terbuka ketika tingkat pertama terlepas. Bila tingkat pertama ini sampai dengan selamat ke platform pendaratan, ia akan dipakai lagi untuk peluncuran berikutnya.
Sirip di roket Falcon 9. (Dok. SpaceX) |
Tapi itu masih terlalu cepat. Maka pembakaran akhir adalah pembakaran pendaratan, bersamaan dengan keluarnya kaki pendaratan dan kecepatan roket berkurang jadi 2 meter per detik saja.
Berapa peluang roket ini mendarat dengan selamat? Musk hanya berani memperkirakan peluangnya 50 persen atau kurang dari itu. Bila sukses, target Space X berikutnya adalah mendaratkan juga tingkat kedua dengan selamat di Bumi.
Lihat juga:Roket Peluncur SpaceX akan Dibekali Sirip |
Platform pendaratan terapung. (Dok. SpaceX)
Sirip di roket Falcon 9. (Dok. SpaceX)