Menurut Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Anies Baswedan, Indonesia punya lebih dari 50 juta anak yang melakukan aktivitas belajar dan sebanyak 3 juta guru yang mengajar.
Dalam proses belajar mengajar ini diperlukan salah satu alat ajar yang paling penting yaitu buku pelajaran. Sayangnya, buku pelajaran yang berbentuk fisik seringkali terkena kendala terutama seperti faktor kertas, distribusi dan logistik. Apalagi jika didistribusikan ke daerah terpencil.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kita akan gunakan E-Book yang disebut E-Sabak. Biayanya akan jauh lebih murah dan kualitas tidak akan terpengaruh oleh faktor lain," ujar Anies.
Prinsipnya, E-Sabak ini merupakan sebuah tablet. Dalam tablet ini terdapat e-book dan aplikasi pembelajaran interaktif yang dapat digunakan dalam proses belajar mengajar.
"E-Sabak ini satu paket, jadi nanti siswa terima tablet sudah beserta dengan aplikasi dan koneksi data," kata M. Awaluddin, Director of Enterprise and Business Service PT Telkom.
Anies menambakan penggunaan tablet e-sabak ini hanya sebagai alat referensi bacaan sedangkan buku tulis yang digunakan tetap berupa fisik dan kertas.
Selain itu, Anies juga mengatakan bahwa zaman telah berubah menjadi berbasis digital dan dunia pendidikan harus bisa antisipasi perubahan.
"Kita siapkan untuk perubahan. Kita tentukan proses dan jalankan perubahan dari paper base menjadi elektronik base dengan E-Sabak ini," kata Anies.
Untuk sementara penggunaan E-Sabak ini difokuskan pada daerah terpencil. Namun ke depannya, diharapkan penggunaannya akan mencakup seluruh elemen pendidikan di Indonesia.
(eno)