"Otak kera punya 'hardware' dasar untuk pengenalan diri, tapi mereka butuh 'software' khusus dari pelatihan agar bisa mengetahui kemampuan ini," ujar ahli saraf sekaligus anggota tim peneliti, Neng Gong kepada situs berita Live Science.
Pengenalan diri di depan cermin yang terjadi pada manusia dinilai sebagai tanda empati, sehingga tim peneliti ini ingin mencari tahu pada kera.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kemudian, mereka menyorotkan laser berkekuatan kecil yang tidak mengakibatkan iritasi.
Tim peneliti juga menunjukan sebuah video kepada para kera yang memutar rekaman wajah mereka dengan tanda titik saat bercermin. Kera-kera itu kemudian menyentuh titik itu.
Lalu, pihak peneliti menyimpulkan bahwa kera tersebut telah lolos tes penanda (mark test).
Dari situ, Gong mengatakan bahwa rasa empati pada manusia mengikutsertakan mekanisme otak yang sama. Jika kera bisa dilatih untuk mengembangkan pengenalan diri, kemungkinan mereka memiliki kapasitas empati seperti manusia.
Tim peneliti juga mencatat, studi ini mungkin saja memberikan harapan untuk penderita penyakit mental yang tidak bisa mengenali dirinya sendiri di depan cermin. Contohnya, penyakit Alzheimer. (adt)