Individu atau kelompok peretas itu beroperasi dengan nama Rex Mundi. Dalam kicauan di akun Twitter, Rex Mundi mengatakan telah meretas 30.000 informmasi dari nasabah lokal maupun asing.
Beberapa jam setelah informasi itu dirilis, Banque Cantonale de Geneve mengatakan bahwa "tidak ada risiko keuangan tertentu untuk klien dan bank." Mereka mengatakan bahwa informasi tersebut tidak penting dan sudah usang.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dalam serangan ini, peretas meminta tebusan uang sebesar 10.000 euro atau sekitar Rp 150 juta. Mereka coba memainkan isu reputasi bank Swiss yang membantu nasabah menyembunyikan informasi dari otoritas pajak.
Banque Cantonale de Geneve mengatakan akan menganalisis lebih dalam soal isu ini dengan pihak berwenang. Mereka juga memperkuat langkah keamanan pada awal pekan ini.
Menurut analis keamanan siber Chase Cunningham dari FireHost, yang berbasis di Texas, AS, Rex Mundi adalah bagian dari jaringan peretas yang kerap meminta uang tebusan dari korban. Dalam hal ini, pihak korban diminta membayar tebusan melalui kartu kredit kepada peretas, yang sering beroperasi di Eropa Timur atau Rusia.
Cunningham mengatakan kepada Bloomberg, tebusan yang diminta Rex Mundi jumlahnya terbilang kecil. Jika tak dipenuhi, mereka akan merilis data yang telah dicuri. (adt)