Suhu udara di bagian atas dunia kini meningkat dua kali lebih cepat dari suhu di seluruh dunia, sehingga bongkahan es raksasa yang ada di laut dan darat mencair lebih cepat. Bukan hal yang mencengangkan apabila kondisi ini membuat beruang kutub melakukan migrasi ke 'rumah' yang lebih layak.
Situs berita The Guardian melaporkan, sejumlah ilmuwan melakukan penelitian terhadap DNA arah aliran gen (directional gene flow) beruang kutub generasi yang baru berpindah ke area dengan laut es lebih banyak.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Laut es di kepulauan Kanada memiliki ketahanan yang lebih kuat terhadap pencairan di musim panas karena pola sirkulasi, geografi yang kompleks, dan garis lintang utara yang lebih dingin," tulis isi penelitian mereka yang dipublikasikan di jurnal PLOS One.
"Aliran gen beruang kutub yang mengarah ke arah utara adalah hal baru," ujar pemimpin penelitian USGS, Elizabeth Peacock. "Dengan memeriksa susunan genetik beruang kutub, kami bisa memperkirakan tingkatan dan arah aliran gennya yang menunjukan kisah awal bagaimana pergerakan, perkawinan, ekspansi populasi dan kontraksi hewan ini."
![]() |
Para ilmuwan mengatakan, mendokumentasikan gerakan dan perilaku beruang kutub akan membantu upaya konservasi di negara-negara tempat mereka tinggal serta lokasi di mana habitat laut es yang sudah semakin parah.
Tak hanya penelitian USGS, studi dari National Oceanic and Atmospheric Administration juga memperlihatkan pengaruh pemanasan global terhadap migrasi beruang kutub.
Di bagian selatan Laut Beaufort, jumlah beruang usia dewasa sekitar 900 ekor setelah mengalami penurunan 40 persen pada tahun 2001 silam.
Suhu permukaan laut khususnya di Laut Chukchi sebelah barat laut Alaska, airnya mengalami pemanasan tiap 1 Fahrenheit atau -17 Celcius per dekade.
Luasnya es laut Arktik yang semakin berkurang sejak musim panas lalu tidak mencapai rekor terendah di tahun 2014 ini, namun berada di enam terendah sejak satelit mengukurnya sejak 1979.
(eno)
