Lima Masalah Soal Data yang Tak Pernah Berubah

Trisno Heriyanto, CNN Indonesia | Minggu, 25/01/2015 10:29 WIB
Lima Masalah Soal Data yang Tak Pernah Berubah Ilustrasi (KaboomPics)
Jakarta, CNN Indonesia -- Meski di 2015 ini ada banyak teknologi baru, namun soal pengelolaan data ternyata masih meninggalkan masalah lama. Paling tidak itu menurut versi Qlik.

Qlik, salah satu perusahaan yang bergelut dibidang olah dan recovery data memaparkan sejumlah trend yang terjadi di 2015. Ada yang berubah, namun ada pula masalah klasik yang masih melanda.

"Hari ini, kita hidup di dunia di mana cara manusia berinteraksi dengan data berubah dengan cepat dan sebagian besar menuju kearah yang lebih baik,” kata Terry Smagh, Vice President, Asia, Qlik. Dalam surat elektronik yang diterima CNN Indonesia, Minggu (25/1).


Menurut Smagh paling tidak akan ada lima masalah yang sudah pernah terjadi sebelumnya, tapi belum bisa diselesaikan di 2015. Apa saja itu?


1. Sebagian besar perusahaan akan berbicara tentang Big Data, namun tidak melakukannya.

Ada peluang nyata bagi bisnis untuk memanfaatkan Big Data. Tapi kebanyakan, departemen TI belum memiliki keterampilan atau waktu untuk menerapkan infrastruktur baru karena masih bergulat untuk memelihara beban kerja yang ada.

Sementara sebagian besar pemimpin bisnis memiliki pemahaman yang relatif dangkal tentang apa yang Big Data dapat lakukan untuk mereka. Apa yang mereka pahami hampir selalu menyertakan "meningkatkan media sosial" sebagai tujuan utama.

Organisasi dapat mencapai banyak manfaat dengan alat analisis sentimen yang ada, atau penghubung media sosial. Mengintegrasikan media sosial ke dalam analisis yang ada sangat bermanfaat dan relatif sederhana.

Tentu tidak berarti Big Data tidak sedang menuju ke arah kita. Memperoleh keterampilan dan, jika mungkin, pengalaman. Namun, organisasi belum waktunya memensiunkan database relasional mereka.


2. Visualisasi akan semakin berpengaruh, lebih daripada yang diperkirakan.

Jika Big Data adalah buzzword di tahun 2014, visualisasi berada pada posisi tidak jauh di belakangnya. Masalahnya, terlalu banyak visualisasi yang benar-benar terlibat dalam pengambilan keputusan yang lebih baik.

Alasannya adalah karena ada banyak kekurangan yang secara teknis tidak ada dalam sistem mereka. Masalahnya, secara paradoks, adalah bahwa visualisasi seperti yang digunakan hari ini bisa terlalu meyakinkan.

Banyak visualisasi mengurangi informasi yang ditampilkan dengan "mengklarifikasi" kepada orang lain sesuatu yang telah kita ketahui. Di sisi lain, terjadi pengurangan percakapan dan argumen, sehingga mengurangi kemampuan kita untuk mengetahui kebenaran dari sebuah situasi.

Solusinya adalah dengan menghindari alat yang hanya memberikan grafik untuk presentasi atau berbagi. Kita harus menggunakan alat yang benar-benar interaktif dan eksploratif. Tidak hanya menjadi "pengguna akhir"; setiap orang dalam organisasi dapat memiliki wawasan yang penting.


3. Kita masih akan mencari ponsel atau tablet yang sempurna.

Pada akhir tahun 2015, pengembang dan administrator yang mengira mereka telah memecahkan masalah mereka dengan standarisasi pada satu platform kemungkinan besar akan menghadapi masalah yang sama lagi. Mereka tetap harus memberikan pengguna pengalaman responsif.

Siapa tahu jika pengguna akan menggunakan iPad atau Android, bahkan dalam 12 bulan ke depan? Di sekolah-sekolah AS, untuk pertama kalinya di tahun 2015, Google Chromebooks akan mengungguli penjualan iPad Apple. Dengan platform yang benar-benar responsif, kita dapat membangun sekali dan menyebarkan di mana saja.


4. Kita akan melakukan banyak kerja lokal, bahkan jika data kita ada di 'awan'.

Ada beberapa infrastruktur cloud yang penting dan ada ribuan aplikasi cloud. Kemungkinan kita sudah membuat data pada satu atau lebih aplikasi operasional utama. Mungkin kita bahkan menyimpan data di cloud.

Tapi kita masih memiliki banyak data lokal dan kita perlu mengintegrasikan data lokal dengan data dari tidak hanya satu tetapi beberapa aplikasi cloud.

Pada 2015 kita akan mengunduh data kembali ke media penyimpan lokal untuk melakukan operasi sangat tradisional membersihkan , membentuk, mengubah, dan mengintegrasikan data. Back office masih akan benar-benar berada di belakang kantor sampai beberapa waktu ke depan.


5. Manajer tetap tidak akan memahami wawasan dasar operasi sehari-hari mereka.

Sangat mudah untuk terbawa dengan antusiasme terhadap teknologi terbaru. Big Data, Internet of Things, analisis prediktif, semua menjanjikan banyak. Namun lihatlah bisnis di sekitar Anda, atau bisnis pelanggan Anda, sistem pemasok dan mitra.

Kemungkinan ada manajer di mana-mana yang masih berharap mereka memiliki informasi yang lebih baik, lebih lengkap, lebih akurat, lebih tepat waktu tentang elemen dasar pekerjaan sehari-hari mereka. Ada godaan untuk mencari tujuan yang dramatis untuk mengubah bisnis (dan reputasi) kita.

Namun fakta menunjukkan bahwa analisis data atau pendukung keputusan hanya sedikit memperbaiki bisnis yang berasal dari peningkatan setiap transaksi dan setiap keputusan. Sebagai kesimpulan, Smagh mengatakan, "Proseslah order-order tersebut dengan lebih sedikit kesalahan. Tingkatkan efisiensi produksi selangkah lagi.

Menargetkan dengan lebih baik upaya pemasaran Anda. Dan yang terpenting, berikan manajer instrumen untuk mengidentifikasi, merencanakan dan melacak perubahan-perubahan kecil, yg terjadi setiap hari. Pada akhir 2015 Anda akan melihat ke belakang dengan cukup puas."


(eno/eno)


ARTIKEL TERKAIT