Hal itu dipaparkan para peneliti dari Univeritas Pennsylvania. Mereka menyimpulkan adanya ikatan kuat antara tweet bermuatan negatif dengan penyakit jantung. Sebaliknya, cuitan bernada positif justru dianggap bakal memberikan dampak baik untuk kesehatan.
Para peneliti mengumpulkan kicauan publik yang dibuat sekitar 2009 sampai 2010. Beberapa cuitan bernada negatif kemudian diambil, dan dilihat korelasinya dengan dampak emosional terhadap pengguna.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Eichstaedt menganggap dengan memantau kicauan pengguna mereka bisa lebih mudah memantau kondisi mental masyarakat. Pasalnya, banyak orang justru lebih terbuka di media sosial ketimbang saat pemeriksaan medis.
Kicauan marah dianggap sama sekali tidak ada hubungannya dengan penyakit jantung. "Itu berarti, jika banyak tetangga Anda marah, Anda mungkin akan meninggal karena penyakit jantung," ungkap Schwartz, seperti dikutip dari Telegraph.
Pun begitu bukan pertama kalinya kicauan Twitter dipakai untuk bahan riset. 2013 lalu sekelompok ilmuwan dari Johns Hopkins University membuat sebuah metode yang merekam sejumlah cuitan. Hal ini dilakukan untuk melihat peredaran penyakit flu secara real time.
(eno/eno)