Pohon baobab berasal dari genus Adansonia yang memiliki sembilan spesies pohon. Sebanyak enam spesies endemik di Madagaskar, dua lagi adalah asli dari Afrika dan Semenanjung Arab, dan satu spesies berasal dari Australia.
Pohon yang mampu mencapai ketinggian 47 meter dan diameter batang 15 meter ini diberi nama Adansonia sebagai penghormatan kepada Michel Adanson, naturalis Prancis yang pertama kali mendeskripsikan Adansonia digitata.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tapi, selain itu, ada satu unsur lagi pada pohon ini yang menarik, yaitu buahnya. Seperti dilansir theguardian.com pada Sepember tahun lalu, minat terhadap buah baobab sedang meningkat di beberapa negara, termasuk Inggris. Buah baobab sudah masuk ke pasar buah Eropa sejak 2008.
Ada berbagai mitologi yang menyertai pohon ini. Di Afrika, ada mitologi yang menyebut bahwa awalnya ranting dan dedaunan pohon yang rimbun dan lebar itu adalah akar baobab. Sebelumnya pohon ini sering menggerutu dan iri pada kecantikan pepohonan lain karena ia berdaun hanya sedikit serta tak berbunga. Marah mendengar gerutu tiada habis itu, dewa pun mencabutnya lantas menanamnya terbalik.
Apakah alasan Pemprov DKI Jakarta membeli baobab yang mahal jauh-jauh dari Afrika karena buahnya yang bergizi? Kepala Dinas Pertamanan dan Pemakaman DKI Jakarta, Nanda Sunandar, mengatakan pohon baobab diharapkan mempercantik taman di Waduk Ria Rio, Jakarta Timur.
Pohon ini disebut istimewa karena bisa bertahan hidup hingga puluhan tahun. (Baca: Harga Pohon Baobab Rp 750 Juta Dianggap Wajar) (ded/ded)