“Terjadi peristiwa meteorologis yang disebut dengan cold surge (seruak dingin), yaitu masuknya massa udara dingin dari Siberia menuju Jawa bagian barat,” kata Seto yang menjabat Kepala Bidang Pengkajian dan Penerapan Teknologi Pembuatan Hujan, UPT Hujan Buatan BPPT.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Seto, teknologi modifikasi cuaca diperlukan karena kemampuan daya dukung permukaan Jakarta dan sekitarnya masih jauh lebih kecil daripada potensi hujan yang mungkin terjadi. "Sebaiknya segera dilakukan dalam beberapa hari ke depan. Namun karena belum ada perintah resmi, teknologi modifikasi cuaca urung terlaksana," kata dia.
“Beban Jakarta makin berat. Dari tahun ke tahun, banjir Jakarta makin besar dan meningkat. Dulu 3-5 tahunan, sekarang setiap tahun. Padahal curah hujan relatif tetap,” kata Sutopo.
Ada banyak faktor yang menyebabkan perubahan pola banjir Jakarta tersebut, yakni persoalan tata ruang dan penggunaan lahan yang tak sesuai fungsinya. “Pembangunan yang ekspansif tak diikuti kaidah konservasi tata air mengakibatkan beban lingkungan meningkat. Jakarta tak mampu menampung aliran permukaan air,” ujar Sutopo.
Selain itu, drainase kota Jakarta pun dinilai buruk. BNPB menilai kemampuan drainase Jakarta tak memadai untuk menampung curah hujan. Hal ini bakal lebih buruk bila sungai-sungai di Jakarta meluap seperti tahun 2013.
“Saat ini sungai masih normal, namun aspek drainase amat buruk,” kata Sutopo. Bila nantinya sungai pun sampai meluap, maka bahaya lebih besar menghadang Jakarta.
Saat ini BNPB telah siaga dan siap membantu Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Personel BNPB diturunkan ke lokasi-lokasi banjir. BNPB juga mendirikan 28 titik posko komando taktis dengan rincian 25 tersebar di Jakarta, 2 di Bekasi, dan 1 di Tangerang. (adt/agk)