William, pemuda kelahiran tahun 1985 asal Kota Kembang ini mengaku sudah jatuh hati dengan industri teknologi sejak usia belia. Ia bercerita soal ia dan keluarganya yang hijrah ke Amerika Serikat sejak sekitar tahun 1998. Ia besar di San Francisco dan menghabiskan masa SMA serta kuliah di sana.
"Sejak dulu, saya sudah dekat dengan lokasi pusatnya teknologi. Dari tempat saya, saya bisa lihat situasi orang-orang pelaku industri teknologi seperti apa," ujar alumni Universitas of California, Berkeley ini.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dari sekian banyak pengalamannya, William akhirnya dipercaya untuk memegang jabatan Country Manager Path Indonesia.
William pulang kampung karena sadar perkembangan internet Indonesia sudah cukup maju, pengakses internya juga semakin banyak dan bisnis di media sosial semakin meningkat.
"Saat masih di AS, saya mendengar Indonesia mengalami pertumbuhan pengguna internet yang begitu pesat. Saya langsung merasa Indonesia bakal jadi pasar besar," William berkisah.
Benar saja, setibanya ia di Indonesia, William langsung 'nyemplung' ke perusahaan internet seperti Lazada dan Zomato tersebut.
Saat ditanya pendapatnya tentang Path sendiri yang nantinya akan ia pimpin di Indonesia, William mengakui bahwa jejaring sosial privat itu sangat istimewa.
"Path betulan memiliki nilai sendiri, karena selain berbagi kebahagiaan, Path bisa menghubungkan kita dengan orang terdekat," lanjut William. "Apalagi saya dan keluarga terpisah oleh zona waktu yang jauh, jadi saya bisa berbagi momen dengan mereka lewat Path."
William juga menambahkan, ia merasa yakin dengan pasar media sosial di Indonesia yang sangat kuat. Dengan keputusan untuk membuka kantor Path di Indonesia, diakui William adalah sebagai bentuk rasa percaya bahwa industri teknologi khususnya dunia internet akan terus berkembang.
(eno)