Seperti dijelaskan dalam keterangan resminya kepada CNN Indonesia, Jumat (20/2), Lenovo mengatakan Superfish sebetulnya diinstal untuk membantu pelanggan menemukan produk menarik ketika berbelanja. Dari investigasi internal, Lenovo menyebutkan tak ada bukti adanya masalah keamanan.
Namun, karena diprotes pelanggan, Lenovo pun mengambil tiga tindakan:
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
2. Lenovo tidak lagi menginstal software ini sejak Januari 2015
3. Lenovo tidak akan menginstal software ini di masa yang akan datang.
Lenovo menjelaskan Superfish adalah teknologi yang murni berbasis kontekstual atau image dan bukan perilaku. Software ini tidak melakukan profiling atau memantau perilaku pengguna.
“Pengguna diberi pilihan untuk menggunakan atau tidak menggunakan produk ini,” demikian penjelasan perusahaan komputer asal Tiongkok tersebut. “Hubungan dengan Superfish secara finansial tidak signifikan; tujuan kami adalah untuk meningkatkan pengalaman pengguna.”
Sebelumnya, kantor berita CNN merilis berita sejumlah pembeli laptop Lenovo yang mengaku produk yang dibelinya sudah disusupi malware. Padahal, komputer jinjing yang dikirim tergolong masih gres alias baru.
Laptop Lenovo baru yang dikirimkan ini memang sudah terinstal atau prainstal software bernama Superfish. Iklan ad-on di alat peramban inilah yang disisipi dengan malicious software. Virus jahat ini kemudian termasuk ke dalam bentuk adware.
Adware jahat tersebut merusak keamanan perangkat menggunakan sistem sertifikasi situs-situs resmi, sehingga komputer akan kesulitan mengenali situs palsu. (Baca: Laptop Baru Lenovo Diduga Disusupi Virus) (ded/ded)