Mahasiswa Indonesia Tembus Kompetisi Airbus

Deddy S , CNN Indonesia | Senin, 23/02/2015 14:55 WIB
Mahasiswa Indonesia Tembus Kompetisi Airbus Tim Rajawali dari UGM. (Dok. pribadi)
Jakarta, CNN Indonesia -- Sebanyak dua tim mahasiswa Indonesia melaju ke babak kedua kompetisi inovasi industri penerbangan yang digelar oleh perusahaan pembuat pesawat Airbus dan UNESCO. Salah satu proposal penelitiannya adalah memanfaatkan energi listrik yang dihasilkan dari gerakan manusia sebagai energi alternatif bagi bandar udara. 

Proposal mereka menyalip 400 tim mancanegara. Kompetisi “Fly Your Ideas” digelar oleh Airbus untuk mencari solusi inovatif untuk menjawab tantangan dunia penerbangan. Kompetisi ini digelar oleh Airbus saban dua tahun sekali.

Tim dari Indonesia adalah Tim Rajawali dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta dan Tim Fly Green dari Universitas Sebelas Maret, Solo. Keduanya termasuk 100 tim teratas yang proposalnya masuk ke babak kedua. Proposal mereka diuji 50 juri dari Airbus.

Tim dari UGM merancang teknologi sumber listrik alternatif bagi bandar udara yang disebut Piezzoelectrics. Ketua Tim Rajawali Hibran Maksum mengatakan, bandara selalu dipenuhi ribuan orang saban hari dan beroperasi selama 24 jam. Dengan kebutuhan biaya operasional listrik yang naik terus, maka diperlukan sumber listrik alternatif.

“Sebetulnya kita dapat memanfaatkan para pengguna bandara ini sebagai sumber listrik alternatif dengan cara mengumpulkan arus listrik yang sebenarnya dihantarkan oleh manusia setiap kali kita melangkah,” kata mahasiswa fakultas teknik itu dalam keterangan resmi kepada CNN Indonesia, Senin (23/2).

Sedangkan tim Fly Green dari Solo mengusulkan penggunaan teknologi HHO dan cryo-electric untuk Airbus Stingray. Airbus Stingray merupakan salah satu konsep pesawat masa depan yang tengah dikembangkan Airbus.

Charles Champion, Airbus Executive Vice President Engineering, mengatakan tim yang masuk ke babak kedua tahun ini cukup beragam. “Kita dapat melihat sebuah generasi yang tidak lagi berpikir dalam sekat-sekat, melainkan berkolaborasi melalui batas gender, kebangsaan, dan disiplin ilmu,” katanya.

Di babak kedua, selama 100 hari, seluruh tim akan didampingi seorang mentor dan seorang pakar Airbus untuk membantu mereka mengembangkan ide. Selanjutnya hanya dipilih lima tim ke babak final.