Ibnu Al-Haytham, Tokoh Islam yang Disebut 'Bapak Optik'

Susetyo Dwi Prihadi, CNN Indonesia | Rabu, 25/02/2015 15:35 WIB
Optik menjadi sesuatu yang penting dalam perkembangan manusia. Dan rasanya tak ada yang bisa menyangsikan perananan fisikawan muslim Ibnu al-Haytham Ilustrasi (Jacob L. Bourjaily)
Jakarta, CNN Indonesia -- Di era millennium seperti saat ini, optik menjadi sesuatu ilmu yang penting dalam kehidupan manusia. Dalam perjalannya, bagian dari ilmu sains ini memberikan keuntungan bagi fotografi, internet (fiber optik) hingga satelit mata-mata.

Membicarakan optik, maka tak bisa dilepaskan dari seorang ilmuwan muslim bernama Abu Ali al-Hasan ibnu al-Hasan ibnu al-Haytham atau Ibnu al-Haytham saja, di dunia barat dia dipanggil Alhazen.

Ibn al-Haytham seorang ilmuwan besar yang salah satu jurnalnya Kitab al-Manazir atau Buku Optik diakui sebagai rujukan ilmu optik. Maka tak mengherankan dia pun dijuluki Bapak Optik.


"Al-Haytham tak bisa dipungkiri merupakan figur paling signifikan dalam sejarah optik di masa lalu dan abad ketujuh belas," kata sejarahwan sains David Lindberg, yang dikutip dari Science News.

Dia menambahkan selain memberikan kontribusi besar untuk optik, namun Ibnu al-Haytham adalah salah satu karakter berbeda dalam sejarah ilmu pengetahuan abad pertengahan.

Lahir di Basra, yang sekarang menjadi di Irak, dia menguasai pemikiran-pemikiran dari filsuf dan ilmuwan Yunani seperti Arsitoteles, Plato, Ptotelmy, Archimedes, Galen, dan banyak lainnya.

Sehingga dia memang layak disebut filsuf, matematikawan dan astronom. Apalagi diperkiraan lebih dari 200 buku tentang berbagai aspek alam telah dibuatnya. Namun memang ilmu optik yang membuat dirinya menjadi terkenal.

Di dalam Kitab Al-Manazir, dia adalah ilmuwan pertama yang mampu menjelaskan bagaimana cara kerja optik dalam mata manusia dalam menangkap dan menerima gambar secara visual secara detil.

Dalam menulis buku Optik ini Ibn al-Haytham memang banyak terpengaruh dari Arsitotels, khususnya visi yang melibatkan penerimaan gambar eksternal. Aristoteles sendiri menunjukkan bahwa masuk akal untuk menganggap bahwa mata bisa memancarkan sinar yang mampu menjangkau semua bintang-bintang jauh.

Tapi Ibn al-Haytham tidak berhenti dengan penjelasan Arsiitoles tersebut. Dia juga harus menjelaskan mengapa citra, katakanlah, gunung, bisa muat dalam bola mata manusia yang relatif kecil.

Dalam hal itu, Euclid dan Ptolemy telah mendeskripsi geometris-matematis rumit tentang bagaimana sinar dari mata bisa membuat kerucut visual yang mampu mencakup gambar dari objek yang dirasakan mata.

Ibn al-Haytham melihat bagaimana matematika yang bisa diterapkan untuk "sinar imajiner" melewati ke mata dari berbagai titik pada objek yang dirasakan.

Dengan kata lain, geometri yang extramission pendukung telah diterapkan pada sinar yang dipancarkan seharusnya merupakan penerimaan cahaya berbalik untuk menggambarkan mekanisme di balik sinar yang diterima cahaya.

Menggabungkan pemahaman ini dengan pengetahuan (melalui Galen) fisiologi mata, Ibn al-Haytham menjelaskan proses visual (mencatat pentingnya lensa) dan bagaimana mengirim gambar ke otak.

"Komitmen al-Haytham untuk teori visi yang menggabungkan fisik, fisiologis dan matematika telah menentukan ruang lingkup dan tujuan teori optik dari zamannya hingga saat ini," tulis Lindberg.

Organisasi Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) telah menetapkan Tahun Internasional untuk Cahaya. Seperti dikatakan Seketaris Jendral PBB Ban Kin-Moon bahwa cahaya memiliki peranan penting dalam kehidupan manusia.

(eno)
TOPIK TERKAIT
ARTIKEL TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK