Scott memiliki saudara kembar identik bernama Mark Kelly yang juga seorang astronaut NASA namun sudah pensiun. Mark kini akan membantu mengontrol eksperimen bernama One-Year Mission itu dan mengukur suhu tubuh Scott selama berada di luar angkasa.
Menurut laporan situs Quartz, peneliti dari institusi medis nanti akan memantau gaya hidup Scott di antariksa selama 342 hari yang notabene tak ada gaya gravitasi, sehingga bisa memengaruhi kondisinya di sana.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Peneliti akan memelajari apakah situasi itu akan memperparah risiko terhadap aterosklerosis atau pengerasan pembuluh darah, mengubah bakteri usus, hingga mendistorsi persepsi. Mereka juga akan memantau apakah radiasi kosmik akan memperpendek umurnya dengan cara merusak struktur senyawa di ujung DNA atau telomer.
Pilihan Redaksi |
Misi One-Year Mission juga menerbangkan cosmonaut Mikhail Kornienko asal Rusia. Sejatinya One-Year Mission merupakan proyek kerja sama antara badan antariksa Amerika Serikat dan badan antariksa Rusia, Roscosmos.
Kedua antariksawan itu akan melakukan uji coba mengetahui bagaimana tubuh manusia tinggal dalam waktu panjang di luar angkasa. Selain kondisi fisik, dari misi ini juga akan diketahui bagaimana kondisi psikologis dan biomedis jika berada lama di luar angkasa.
Selama ini, tidak ada astronaut Amerika Serikat yang tinggal di luar angkasa selama setahun. Waktu terlama astronaut di luar angkasa adalah enam bulan.
Sementara Rusia tercatat sudah empat kali mengirim cosmonaut untuk tinggal di luar angkasa selama lebih dari setahun. Pada 1994 sampai 1995, tercatat cosmonaut Valeri Polyakov menghabiskan 437,7 hari di luar angkasa.
Scott mengakui risiko dari eksperimen ini belum pernah diprediksi sebelumnya. Tetapi ia yakin eksperimen ini akan memajukan penelitian dan eksplorasi perjalanan antariksa.
Badan antariksa Amerika Serikat dan Rusia mengatakan data ini akan sangat berharga mengingat keduanya punya misi besar mengirim manusia ke planet Mars.
Para dokter ahli memprediksi antariksawan bakal mengalami masalah pada kekebalan tubuh di sana, ada pula kekhawatiran penerbangan lama akan merusak mata, hingga masalah distribusi cairan di dalam tubuh yang terasa ringan karena tak ada gravitasi. (adt/eno)