Beberapa waktu lalu, Rudiantara memang mengizinkan penggunaan 4G LTE di frekuensi 1.800 MHz. Dengan syarat, setelah empat operator yang mendiami frekuensi ini diatur secara berurutan. Lalu para operator ini mulai melakukan tata ulang, baru kemudian teknologinya dinetralkan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dengan metode direct ini artinya pemindahan kanal bertahap per wilayah (cluster) dengan cara swap frekuensi secara serempak. Sementara pemindahan kanal bertahap per wilayah dengan cara swap frekuensi tetapi disediakan kanal kosong untuk transisi disebut dengan in-direct.
Rudiantara mengatakan, pengguna 2G kebanyakan adalah mereka yang masih menggunakan feature phone yang biasanya hanya untuk voice dan SMS. Dan mereka semua kebanyakan adalah penduduk Jakarta.
"Pada akhirnya nanti broadband 4G akan menggantikan 2G. Perlu diketahui 4G memang bisa 15 kali cepat dari jaringan 3G. Namun, hal ini bukan berarti memaksa masyarakat untuk pakai handset serba mahal," lanjut Rudiantara.
Hal ini berkaitan dengan aturan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) yang dicanangkan pemerintah terkait konten lokal sebesar 40 persen pada ponsel pintar 4G LTE.
Bukan perkara harga murah saja yang nantinya bisa dipasang melalui implementasi TKDN, namun juga kemudahan memperoleh handset 4G bagi masyarakat demi membangun ekosistem 'melek teknologi'.
Rudiantara juga meyakini para operator Indonesia bisa membangun diri mereka sendiri, dari mulai infrastruktur hingga aktivitas merger hingga akuisisi demi kelanjutan konsumsi bagi masyarakat.
(tyo/eno)