Saat Bumi baru lahir sekitar 4,5 miliar tahun lalu, sempat mengalami tabrakan dengan batu antariksa seukuran Mars dan lapisan meteorit menutupi keduanya. Puing-puing sisa tabrakan tersebut diyakini yang membentuk bulan. Para peneliti pun percaya bahwa bulan memang lahir tak lama setelah Bumi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di dalam pemaparan Giant Impact Hypothesis mengatakan material dari Theia lebih banyak terkandung di bulan, yaitu lebih dari 60 persen. Namun, jika melihat dari pengambilan sampel batu, bulan lebih menunjukan kemiripan komponennya dengan Bumi.
Kemudian Alessandra bersama rekan timnya melakukan simulasi tabrakan pada awal sistem tata surya yang masih terdiri dari 85 hingga 90 protoplanet di mana tiap-tiap planet mengandung 10 persen massa Bumi. Tak hanya protoplanet, ada juga ribuan objek mungil yang disebut planetesimal yang semuanya memiliki 0,2 persen massa Bumi.
Dari simulasi, tim peneliti menemukan bahwa tabrakan tersebut bisa menciptakan tiga sampai empat planet berbatu, dengan perbandingan paling besar dengan massa Bumi. Serta sekitar 20-40 persen komposisi di planet baru sangat mirip dengan susunan komposisi dari protoplanet yang mengalami tabrakan.
"Ini sangat seru karena kami bisa mengungkapkan hal baru dari misteri lahirnya bulan," kata anggota tim Hagai Perets.
Bulan diperkirakan memiliki 1,6 miliar ton air es dan elemen langka yang berlimpah tersembunyi di bawah permukaannya.
Perusahaan energi berbasis di Texas sempat berencana menambang cadangan besar air es untuk diubah menjadi bahan bakar roket dalam bentuk hidrogen dan oksigen, kemudian nantinya akan dijual ke mitra antariksa pada orbit rendah Bumi. (tyo)