Malware ini menginfeksi aplikasi peramban atau browser di komputer nasabah. Ketika nasabah membuka alamat URL untuk melakukan kegiatan internet banking, malware ini bekerja dan menampilkan peringatan khusus untuk tujuan pengelabuan.
"Laman palsu ini sama persis seperti laman bank resmi," ujar Direktur Tipideksus Brigadir Jenderal Viktor Simanjuntak, Senin (13/4).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Viktor melanjutkan, selanjutnya data-data yang dimasukkan oleh nasabah ditampung di server pelaku warga asing tersebut dan dimodifikasi sebelum data dikirim ke bank.
"Kurir ini tidak tahu kalau mereka melakukan kejahatan. Dia mengira telah melakukan kesepakatan bisnis dengan pelaku," ujar Viktor.
Pelaku hingga saat ini belum berhasil ditangkap karena diduga berada di Ukraina, berdasarkan keterangan yang diberikan para kurir. Pelaku diduga merupakan orang kulit putih.
Untuk mengejar pelaku, Viktor berkata pihaknya telah bekerjasama dengan Interpol. "Dia masih ada di luar sana dan saya yakin hingga saat ini penipuan masih berlangsung," ujar Viktor.
Sebelumnya, sejumlah situs internet banking milik bank besar di Indonesia menjadi target sasaran malware pencuri uang ini. Server milik perbankan dipastikan dalam keadaan aman.
Viktor sendiri enggan menyebut nama bank yang menjadi target serangan ini.
Menurut pakar antivirus komputer Alfons Tanujaya dari Vaksincom, malware ini menyerang nasabah dengan cara menginfeksi aplikasi browser. Tiga browser populer, yaitu Internet Explorer, Mozilla Firefox, dan Google Chrome, disebut Alfons sebagai tiga browser yang menjadi target serangan malware pencuri uang ini. (adt/eno)