Penyebabnya, kata Alexander, lantaran selama ini registrasi untuk pelanggan prabayar kurang ketat. “Itu cost bagi kami,” katanya di Lombok, Nusa Tenggara Barat, Jumat (24/4).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
“Real curn di industri itu 7,5 sampai 8 persen per tahun,” kata Alexander. “Dan angka itu tidak pernah berkurang.”
Alexander mengatakan tak begitu memahami mengapa kartu hangus masih terjadi dengan tingkat yang tinggi di Indonesia. Apalagi 99 persen pelanggan adalah pelanggan prabayar sehingga sulit diketahui latar belakang usia, jenis kelamin, dan penawaran yang tepat bagi mereka.
Dengan pengetatan pendaftaran prabayar diharapkan akan terjadi penurunan drastis angka kartu hangus di industri, terutama dari sisi distributor.
Dari sisi Indosat, kata Alexander, mereka ingin mengurangi angka kartu hangus itu dengan meningkatkan loyalitas pelanggan melalui perbaikan jaringan sehingga konektivitas lebih cepat dan lancar.
Kartu hangus rupanya bukan cerita di Indonesia saja. Menurut Alexander, di Amerika Serikat pun terjadi kartu SIM hangus. Tapi persentasenya hanya 0,8 persen. “Memang di sini market-nya beda,” tutur dia. (ded/ded)