Dalam ilmu Geologi, gempa berkekuatan 7,9 skala ritcher yang menghancurkan Nepal itu dan terburuk dalam 81 tahun terakhir seperti jam berputar. Gempa terdahsyat di kawasan itu terakhir terjadi pada tahun 1934.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Tabrakan antara lempengan di India dan Eurasia adalah sebuah karya untuk geologi. Sebab lempengan India itu mendorong jalan ke arah utara menuju Asia sekitar lima sentimeter per tahun. Secara geologis itu bergerak sangat cepat," ujar ahli Geofisika di University of Hong Kong, Lung S.Chan.
Menurut dia, Nepal memang rawan gempa bumi, bukan hanya karena kekuataan besar yang terjadi karena tabrakan tektonik, namun juga jenis garis patahan di negara tersebut.
Peristiwa normal, ketika terjadi gesekan akan menciptakan ruang yang normal ketika ada retakan tanah, sementara di Nepal salah satu kekuataan lempeng tektonik itu justru berdiri di atas yang lain dan termasuk yang paling besar.
Hal yang paling terlihat dari imbas ini adalah Pegunungan Himalaya. Gesekan lempengan yang konstan antara India dan Eurasia mendorong hingga ketinggian puncak sekitar satu sentimeter setiap tahun.
"Dalam kasus gempa lalu, gesekan ini bergerak sekitar dua meter," jelas Hongfeng Yang, ahli gempa di China University of Hong Kong.
Meskipun keteraturan tampak dari gempa bumi yang parah di Nepal, tidak mungkin untuk memprediksi kapan satu sama lain akan terjadi. Namun, catatan sejarah dan pengukuran modern pergerakan lempeng tektonik menunjukkan bahwa jika tekanan membangun di wilayah tersebut dengan cara yang umumnya konsisten dan homogen,
Sehingga, daerah tersebut bisa diprediksi akan terjadi gempa parah setiap empat sampai lima dekade, kata Dr. Yang.
(tyo/tyo)