Kakatua Putih, Dijual Rp 20 Juta tapi Makin Terancam

Deddy S, CNN Indonesia | Selasa, 12/05/2015 06:46 WIB
Kakatua Putih, Dijual Rp 20 Juta tapi Makin Terancam Burung Kakatua Jambul Putih (Dok. commons.wikimedia.org)
Jakarta, CNN Indonesia -- Selain Kakatua Kecil Jambul Kuning yang sedang disoroti gara-gara penyelundupannya terungkap, ternyata ada satu spesies kakatua lain yang sedang terancam populasinya.

Kakatua itu adalah spesies Kakatua Putih Besar Jambul Putih atau yang bernama Latin Cacatua alba. Spesies ini makin terancam populasinya setelah penangkapan dan perdagangan yang berlebihan di habitatnya.

Anehnya, kata Hanom Bashari dari Burung Indonesia, Kakatua Putih tidak termasuk satwa yang dilindungi. “Tapi perdagangannya dibandingkan kakatua lain adalah yang tertinggi,” kata dia di Jakarta, Senin (11/5).


Kakatua Putih berukuran sedang dengan jambul putih yang dapat ditegakkan di kepalanya. Burung ini endemik di kepulauan Maluku Utara, antara lain di Halmahera.

Dalam setahun ada lebih dari 1.200 ekor Kakatua Putih yang diperdagangkan. Malah burung ini pun dikirim sampai ke Filipina dan sempat diklaim sebagai hasil breeding dari negara itu.

“Padahal itu burung dari Halmahera,” tutur Hanom. “Halmahera ke Filipina kan dekat, dengan kapal-kapal kecil bisa diselundupkan dengan mudah ke sana.”

Dari tangan penangkap, Kakatua Putih dibanderol Rp 150 ribuan per ekor. Tapi begitu sampai di daerah lain, seperti Pulau Jawa misalnya, harganya bisa mencapai Rp 10-20 juta per ekor.

Cara pengirimannya sama seperti kakatua lain dan biasanya selalu ada kemungkinan 10 persen yang mati. Tapi lantaran harganya yang mahal, pedagang masih untung besar.

Mengapa Kakatua begitu diminati dan mahal? Hanom mengatakan itu karena keistimewaan burung itu. Terutama pada bentuk dan bulunya yang eksotis. “Dari kepala sampai ekor cantik, indah,” katanya. “Kalau suara memang tidak (indah).”

Terancam tapi Tak Termasuk yang Dilindungi

Sofi Mardiah dari Wildlife Conservation Society mengatakan ada banyak satwa liar yang tidak termasuk dalam kumpulan satwa yang dilindungi tapi populasinya makin terancam.

Salah satu solusi mengatasi masalah seperti itu, kata Sofi, adalah dengan merevisi Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya. (Baca: Soal Kakatua, UU Cegah Penyelundupan Satwa Liar Dinilai Lemah)

“Kami harap kategorisasi di Undang-Undang bisa mengacu pada CITES (Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora),” katanya.

Aneh memang burung ini tak termasuk satwa yang dilindungi. Padahal International Union for Conservation of Nature (IUCN) sudah mengkategorisasikannya sebagai satwa yang terancam punah.

Burung ini pun masuk ke dalam daftar appendix II di CITES. Artinya, untuk memproteksinya, kegiatan mengekspor maupun mengimpor burung Kakatua Putih hasil tangkapan liar adalah terlarang. (ded/ded)


ARTIKEL TERKAIT