Selain mencemari lingkungan, barang elektronik rongsokan yang sekiranya sudah menjadi buangan atau sampah nyatanya menciptakan bisnis kriminal yang sangat menguntungkan. Mirisnya, aktivitas ilegal ini mayoritas terjadi di kawasan Asia dan Afrika.
Laporan tersebut menunjukan ada sekitar 41,8 juta metrik ton sampah elektronik atau e-waste di tahun 2014. Angka tersebut disinyalir bakal menukik 50 persen pada 2018 mendatang.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kami menyaksikan jumlah pembuangan barang elektronik di seluruh dunia yang sulit dipercaya. Tak hanya menyumbang porsi besar dari gunungan sampah non-daur ulang, tapi juga meningkatkan ancaman bagi kesehatan manusia karena lingkungan semakin tercemar dari elemen yang terkandung di barang tersebut," ujar salah satu petinggi PBB yang juga direktur eksekutif United Nations Environment Programme (UNEP), Achim Steiner.
Fenomena ini, menurut pihak PBB dan UNEP, bisa menjadi aspek pendorong terhadap kesadaran badan penegak hukum untuk lebih menguatkan perundang-undangan nasional.