"Sebagai seorang astronot, saya memiliki hasrat tinggi untuk bisa mengangkasa bersama para astronaut dari negara lain. Saya juga ingin bisa sambangi Stasiun Luar Angkasa Internasional," ujar komandan Nie Haisheng kepada kantor berita CNN dalam sebuah wawancara eksklusif.
Diketahui Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS) dikelola oleh 15 negara dari seluruh dunia, di antaranya AS, Rusia, Kanada, Jepang, Inggris, Perancis, Italia, Denmark, Jerman, Belanda, Norwegia, Spanyol, Swiss, Swdia, dan Belgia.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Nie menyambung, "kerja sama antariksa menjalin hubungan kekeluargaan. Banyak negara yang mengembangkan program dan Tiongkok sebagai negara besar juga sudah seharusnya membuat kontribusi sendiri di bidang ini."
Sayangnya, harapan Tiongkok untuk bisa betul-betul menjalin kerja sama lebih mendalam dengan AS dalam sektor kedirgantaraan tak bisa mulus.
![]() |
"Tiongkok bisa dibilang sangat diragukan. Dipandang sebagai musuh dan ancaman yang ingin mencuri rahasia dan kekayaan nasional kita," tutur analis antariksa, Miles O'Brien.
Terlepas dari harapan tersebut, Tiongkok dinilai bisa mengimbangi persaingan industri antariksa. Kabarnya, negara itu sedang merancang stasiun luar angkasa sendiri yang diprediksi akan selesai tahun 2022.
Tercatat, Tiongkok meluncurkan program penerbangan awak pada 1992 yang 'mencontek' teknologi pesawat Soyuz milik Rusia. Kemudian 2008 silam, Tiongkok berhasil menyelesaikan misi spacewalk pertamanya.
Tak lupa pesawat robotika Yutu Tiongkok berhasil menjelajah bulan sejak Desember 2013 untuk mengumpulkan data mengenai bulan.
Yutu merupakan misi bulan ketiga dari Tiongkok, menyusul Chang'e 1 dan Chang'e 2, masing-masing meluncur pada 24 Oktober 2007 dan 1 Oktober 2010 silam.
Sementara menurut pengendali misi Chang'e 5, modul pesawat antariksa ini kini mengorbit bulan sembari mengumpulkan data yang berguna untuk perencanaan misi Chang'e 5 pada 2017 mendatang.
(eno)
