Cacing Bikin Resah di Yogyakarta, Ahli: Itu Tak Terkait Gempa

Deddy S, CNN Indonesia | Rabu, 03/06/2015 14:18 WIB
Cacing Bikin Resah di Yogyakarta, Ahli: Itu Tak Terkait Gempa Ilustrasi (Pixabay/Natfot)
Jakarta, CNN Indonesia -- Masyarakat Yogyakarta heboh dengan munculnya fenomena cacing tanah yang keluar dari dalam tanah dalam keadaan lemas. Situasi ini mengingatkan pada keadaan sebelum terjadinya gempa besar pada 2006.

Tapi pakar yang dihubungi CNN Indonesia menyatakan fenomena itu tak ada hubungannya dengan gempa. Kepala Badan Geologi Surono mengatakan fenomena itu lebih kepada masa transisi musim hujan ke musim kemarau.

Mbah Rono, demikian ia akrab dipanggil, mengatakan tak yakin selama selama sembilan tahun sejak 2006 ada energi yang cukup untuk menyebabkan gempa sebesar 2006. “Gunung Merapi pun dalam status yang normal,” katanya kepada CNN Indonesia, Rabu (3/6).


Gempa besar di kawasan Bantul, Yogyakarta, kata Mbah Rono, pernah juga terjadi pada 1943. Artinya perlu cukup waktu yang lama untuk kemudian terjadi gempa yang besar pada 2006.

Masyarakat, kata Mbah Rono, tak perlu panik. Namun tetap diminta selalu waspada sebab ada atau tidak fenomena cacing, kawasan selatan Pulau Jawa memang termasuk rawan gempa.

Menurut Mbah Rono, pihaknya selalu memantau aktivitas tektonik maupun vulkanik di sekitar Yogyakarta. Namun kedatangan gempa, katanya, tak bisa diramalkan oleh siapapun.

Profesor Sunarno dari Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada juga berpendapat serupa. Menurut ahli fisika ini, masyarakat tak perlu panik karena fenomena cacing lebih kepada perubahan musim.

Lagi pula, menurut Sunarno, belum ada bukti empirik bahwa keluarnya cacing dari dalam tanah kemudian akan disusul terjadinya gempa bumi.

Alat Early Warning System (EWS) yang dimiliki Sunarno dan timnya pun tak mendeteksi adanya aktivitas bumi yang patut dikhawatirkan akhir-akhir ini. “Semua dalam keadaan stabil,” tuturnya, kepada CNN Indonesia, Rabu (3/6).

Sunarno menduga, keluarnya cacing dari dalam tanah terjadi karena perubahan kelembaban tanah ke arah musim kemarau.

“Cuaca akhir-akhir ini pun sering cepat berubah, mendung mendadak yang berarti terjadinya kondensasi karena penguapan air tanah yang cukup besar,” katanya. (ded/ded)


ARTIKEL TERKAIT