Dalam sebuah riset, Dewan Pers dan Indonesia Indicator mencatat bahwa Twitter merupakan medium yang sangat efektif untuk gerakan sosial spesifik seperti gerakan #SaveKPK, Koin untuk Prita, dan #KawalPemilu. Melalui Twitter publik menyalurkan pendapat dan melakukan dialog untuk memastikan proses berlangsungnya transparansi dan akuntabel.
Sosiolog Universitas Indonesia Roby Muhamad mengatakan, sejumlah kampanye gerakan sosial yang sukses di Twitter mempublikasi sesuatu yang memancing emosional pengguna. Biasanya memasukkan hal tentang ketakutan dan harapan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Bukan cuma politik, masalah apa saja bisa disebarkan di media sosial hanya saja membutuhkan teknik khusus agar ia bisa menarik perhatian publik. Mengandalkan cara-cara yang lebih emosional," kata Roby saat ditemui di Seminar Dialog Demokrasi dalam 140 Karakter di Jakarta, Selasa (12/6).
Anggota Dewan Pers Nezar Patria mengatakan, Twitter dalam momen Pilpres 2014, relatif lebih sering digunakan untuk menyerang atau melontarkan pendapat yang sifatnya sekadar letupan pemikiran yang sifatnya bisa jadi tidak penting. Hal ini salah satunya disebabkan oleh keterbatasan menyampaikan pesan di Twitter yang hanya 140 karakter.
"Twitter memang tidak maksimal untuk membangun diskusi. Tetapi daya jangkau Twitter lebih luas karena bisa di-retweet dan lebih efektif untuk mobilisasi gerakan sosial atau politik," tutur Nezar.
Nezar menilai Facebook lebih tepat untuk memberi penjelasan melalui update status atau menulis di Facebook Notes, tetapi jejaring sosial yang didirikan oleh Mark Zuckerberg ini punya keterbatasan dari sisi penyebaran. (adt/eno)