Anggota Komisioner BRTI, I Ketut Prihadi Kresna menegaskan, tarif Internet memang perlu diatur sebagaimana tarif suara (voice) dan pesan teks (SMS) yang masuk dalam kategori teleponi dasar.
"Selama ini pemerintah baru mengatur voice dan SMS. Tapi untuk Internet belum ada, dan memang perlu dipertimbangkan," kata Ketut saat dihubungi CNN Indonesia, Jumat (23/7).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Baca juga: Alasan Tarif Data Telkomsel Dipatok per Zona
Operator seluler terbesar di Indonesia dengan 145 juta pelanggan itu, mematok harga termahal untuk zona 11 dan 12, meliputi Maluku, Maluku Utara, Papua, Papua Barat.
Pelanggan Telkomsel bernama Djali Gafur membuat petisi online memprotes tarif tinggi yang dipasang Telkomsel untuk pelanggan di Indonesia kawasan timur. Ia berkata tarif Internet Telkomsel di Indonesia bagian timur lebih mahal 100 persen dibandingkan bagian barat.
Para pendukung petisi ini meminta Telkomsel bersikap adil dalam menetapkan tarif. Perbedaan harga kelewat tinggi dinilai menghambat mereka yang berada di zona timur.
"Kadang kami berfikir bahwa ketimpangan ini sungguh tidak adil. Warga di sini butuh akses Internet yang manusiawi, murah lebih baik (lelet dikit enggak masalah) biar akses informasi, pendidikan, pariwisata, pemerintahan, industri kreatif dan geliat ekonomi bisa hidup," tulis Djali.
Sementara itu, Vice President Corporate Communications Telkomsel, Adita Irawati mengatakan, perbedaan tarif itu didasarkan pada beberapa faktor, seperti komponen biaya perangkat, biaya pemeliharaan, dan tingkat kesulitan lainnya.
"Penggelaran jaringan Telkomsel ke berbagai daerah di Indonesia memiliki besaran biaya yang berbeda-beda, akibat dari berbedanya tingkat kesulitan dan komponen biaya lainnya yang dibutuhkan untuk menggelar infrastruktur jaringan di lokasi tersebut," tutur Adita seperti CNN Indonesia kutip dari keterangan resminya.
Baca juga: Tarif Internet Kemahalan, Pelanggan Telkomsel Teriak
Secara pribadi, Ketut berpendapat keluhan dari warga di kawasan Indonesia timur terhadap Telkomsel merupakan sesuatu yang wajar karena ada perbedaan harga berdasarkan kawasan.
Ini seperti kesenjangan harga semen atau bensin, di mana harga produk tersebut di kawsasan Indonesia timur lebih mahal ketimbang di kawasan barat lantaran ada biaya besar untuk distribusi ke Indonesia timur.
(adt/eno)