Sulit untuk memahami autisme mengingat kompleksitas dari gangguan tersebut. Sulitnya mempelajari proses perkembangan otak manusia juga menjadi penghalang lainnya untuk memahami autisme secara mendalam.
Namun, penemuan terbaru yang dikepalai oleh Flora Vaccarino memberikan kesempatan bagi para ilmuwan untuk mengamati dan mempelajari proses perkembangan otak penyandang autisme sejak tahap awal, sehingga memungkinkan para ilmuwan untuk mendeteksi tanda-tanda abnormalitas pada otak sedini mungkin.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sel-sel tersebut kemudian di program dan di putar ulang sehingga para peneliti dapat mempelajari replika otak penyandang autisme pada masa-masa krusial, yaitu dari awal pembentukan hingga terbentuknya otak tersebut secara sempurna.
"Penelitian ini menunjukkan bahwa menggunakan sel-sel tubuh manusia sebagai alat uji coba dapat memberikan penjelasan yang lebih mendalam mengenai patofisiologi autisme. Penelitian ini juga memungkinkan para peneliti untuk mengembangkan pengobatan-pengobatan baru yang lebih baik dalam menangani gangguan autisme," ucap Vaccarino.
Selain itu, Vaccarino berpendapat bahwa metode pembuatan miniatur replika otak kemungkinan dapat juga diimplementasikan dalam penelitian mengenai jenis gangguan perkembangan lainnya.
Autisme adalah gangguan perkembangan sistem saraf pada seseorang yang memengaruhi kemampuan penyandangnya dalam melakukan interaksi sosial. Dalam beberapa kasus, autisme juga dapat memengaruhi kemampuan berbicara penyandangnya. (https://www.medicalnewstoday.com/info/autism/)
Menurut situs National Health Service, autisme dapat terdeteksi sejak bayi berusia dua bulan. Pendeteksian dini dapat dilakukan dengan memonitor pergerakan mata bayi dari usia dua bulan hingga dua tahun. Bayi penyandang autisme cenderung akan lebih jarang melakukan kontak mata dibandingkan dengan bayi normal. (tyo)