Kepala NASA Charles Bolden telah melayangkan surat kepada Kongres yang menyebutkan bahwa memperpanjang kontrak hingga 2017 membutuhkan dana sebesar US$ 490 juta.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia menambahkan, "jadinya kami melanjutkan ketergantungan terhadap wahana antariksa Soyuz milik Rusia tersebut sebagai alat transportasi awak kami."
Sejak badan antariksa Amerika Serikat berhenti memproduksi pesawat ulang alik pada 2011, NASA bergantung pada Roscosmos untuk mengangkut para astronaut ke pos obrital ISS.
Diketahui pada Februari lalu, NASA memang mengajukan peningkatan anggaran belanja tahun 2016 sebesar 50 persen untuk membantu dua mitranya, Boeing dan SpaceX demi pengembangan taksi antariksa menuju ISS.
Bahkan, hal tersebut menjadi bagian dari ajuan Presiden Barack Obama sendiri untuk mendorong anggaran NASA pada tahun fiskal 1 Oktober mendatang sebesar US$ 18,5 miliar atau setara Rp 233 triliun.
NASA, sesuai rencana awal, seharusnya bisa menghemat lebih dari US$ 12 juta atau setara Rp 150 miliar jika menggunakan pesawat Boeing dan SpaceX ketimbang menebeng layanan Roscosmos.
Bahkan pada pertengahan Juli kemarin, NASA telah mengumumkan empat astronautnya yang bakal berlatih untuk mengangkasa dengan pesawat Boeing dan SpaceX, di mana tiga di antaranya akan dipilih untuk mengemudikan uji coba penerbangan pada 2017.
Apa boleh buat, NASA sementara harus mengurungkan mimpi mandirinya itu untuk bisa lepas dari campur tangan Rusia.
(tyo)