Satu faktor yang membedakan jenis teknologi ini dengan jenis-jenis lainnya ialah bahwa wearable gadget berbentuk pakaian atau bahkan aksesoris seperti kaca mata, jam tangan, atau gelang yang normalnya dipakai manusia. Penggunaan wearable technology seringkali dimanfaatkan oleh perusahaan-perusahaan tertentu dengan tujuan meningkatkan efisiensi kerja karyawan dan produktivitas.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Cip yang diimplan di tangannya tersebut memberikan Sjoblad akses ke kantor dan sasana olahraga dan juga akses untuk menyetel sistem alarm tanpa menggunakan kunci atau kartu.
Selain keselamatan penggunanya, wearable gadget juga dimanfaatkan untuk menjaga dan memonitor kesehatan dan kebugaran para karyawan. Perusahaan minyak BP, misalnya, membagikan sebanyak 24.500 gelang Fitbit kepada karyawannya untuk mencatat tingkat kebugaran mereka. Data yang dicatat oleh Fitbit nantinya akan digunakan untuk bahan pertimbangan asuransi kesehatan.
Namun, meskipun wearable gadget terbukti dapat memberikan beberapa keuntungan tersendiri kepada karyawan, teknologi ini memiliki tantangan tersendiri bagi para penggunanya. Salah satunya adalah keamanan data biometrik yang tercatat pada wearable technology yang tak terjamin kerahasiaannya.
“Peretasan data pribadi terjadi hampir tiap minggu. Tidak ada jaminan bahwa data biometrik yang tercatat di perangkat miniatur tersebut tidak dapat diretas,” ucap pengacara teknologi Paul Lanois.
Selain itu, penggunaan wearable technology juga beresiko menciptakan suasana kerja yang bersifat opresif, sehingga dapat merusak moral karyawan.
"Wearable technology dapat dianggap sebagai alat pengawas yang mengganggu alih-alih sebagai alat yang meningkatkan performa kerja dan tingkat produktivitas para karyawan,” ujar Chris Bauer, direktur inovasi di Goldsmith, University of London. (tyo)