"Jelas bisa tetap menarik konsumen. Tapi pasti bakal turun pesanan kalau subsidinya dicabut. Tapi saya yakin loyalitas konsumen kami akan sangat tinggi," kata Nadiem saat ditemui di Balai Kota, Jakarta, Rabu (26/8).
Banyaknya pesanan yang didapatkan para pengemudi pada masa promosi ini, menurut Nadiem, bisa dimanfaatkan untuk menabung hingga nanti pasar layanan ojek panggilan berbasis aplikasi matang dengan sendirinya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di sisi lain, terkait perselisihan yang sering menimpa pengemudi Gojek, Nadiem mengatakan sudah mengasuransikan para pegawainya jika sewaktu-waktu terjadi kekerasan atau kecelakaan.
Pemberian asuransi ini juga diamini oleh salah satu pengemudi Gojek, Turoji. Kepada CNN Indonesia ia mengatakan pengemudi Gojek sudah mendapatkan asuransi.
Selain memberikan asuransi, pihak Gojek juga telah bekerja sama dengan Polda Metro Jaya untuk menangani kekerasan yang dinilai tak bisa ditoleransi. "Kami juga berhubungan dengan Polda, kirim langsung polisi ke sana. Itu kan kriminal," ujar Nadiem.
Gojek hadir sebagai perusahaan peranti lunak komputer yang menyediakan layanan menghubungkan penumpang dengan pengojek motor. Perusahaan ini hadir pada 2011, dan meluncurkan aplikasinya pada Januari 2015.
Jasa ojek motor berbasis aplikasi ini telah menuai perdebatan dari berbagai pihak, termasuk Organisasi Angkutan Darat yang menyatakan bahwa kehadiran Gojek sifatnya bertentangan dengan hukum karena sepeda motor bukan untuk angkutan umum orang dan barang.
Meski dinilai melanggar aturan, Gojek terus mendulang banyak permintaan dari sisi pengemudi dan konsumen, sampai mereka membuka pendaftaran besar-besaran untuk menjaring lebih banyak pengemudi. (tyo)