Ransomware berkembang sebagai virus yang mampu mengenkripsi file untuk mengelabui pengguna komputer, kemudian kini beralih ke ponsel pintar dan wearable device agar mereka mau membayar tebusan yang mereka inginkan.
"Indonesia sejauh ini memang masih nomor 41 dunia, belum daftar teratas. Tapi trennya sedang menuju ke sana," ujar Halim Santoso, Director System
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kendati Indonesia tak berada di dalamnya, Indonesia yang merupakan salah satu negara paling cepat dalam mengadopsi penggunaan perangkat teknologi, khususnya mobile, tentu saja menjadi sasaran empuk ransomware.
Halim menambahkan, "Satu-satunya cara adalah melakukan pencegahan. Maka biasakan untuk mem-back up file-file penting. Masalahnya, 55 persen orang tidak pernah back up file, 25 persen hanya sebagian, dan 20 persen tidak pernah sama sekali."
"Sejak awal kemunculannya 2004 lalu, virus ini hanya dalam satu bulan berhasil meminta tebusan US$ 36 ribu. Angka itupun melonjak jadi US$ 1,1 juta dalam enam bulan," katanya sembari menegaskan kebanyakan uang tebusannya berupa bitcoins.
(tyo/adt)