Penelitian yang dilaksanakan di Jet Propulsion Laboratory (JPL) ini menargetkan pesawat antariksa yang dapat diterbangkan sekitar akhir tahun 2020-an atau awal 2030-an. Dana yang disiapkan untuk penelitian dan pengembangan pesawat mencapai US$ 2 miliar atau sekitar Rp 28 triliun.
Jika kelak misi ini berjalan, NASA berjanji akan mengungkap hasil temuan kepada para ilmuwan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Apabila dibandingkan dengan misi-misi sebelumnya, seperti misi Discovery dan New Frontier, penerbangan pesawat antariksa ke Neptunus dan Uranus memakan jumlah uang jauh lebih besar.
Wacana menerbangkan pesawat antariksa ke Neptunus dan Uranus sudah mulai terdengar sejak 26 tahun silam. Namun, berbagai masalah menyebabkan misi tersebut tidak dapat terealisasi hingga sekarang.
Penerbangan ke Neptunus dan Uranus kemungkinan besar akan bergantung pada pemakaian baterai nuklir yang ditenagai oleh plutonium.
Tenaga nuklir diperlukan untuk mengeksplorasi area di luar jangkauan tata surya, mengingat sinar matahari sulit menjangkau daerah-daerah tersebut sehingga panel tenaga matahari tidak dapat digunakan.
Para ilmuwan berpendapat Neptunus dan Uranus sebagian besar terdiri dari bebatuan, es, dan juga ammonia, sehingga kedua planet mendapat julukan si es raksasa. Uranus berjarak sekitar 2,9 miliar km dari matahari, sedangkan Neptunus 4,5 miliar km. (adt/tyo)