Bicara tentang Homo erectus tak akan bisa dilepaskan dari Indonesia, sebab fosil manusia purba ini pertama kali ditemukan oleh seorang ahli anatomi Eugene Dubois di Trinil, Jawa Timur, pada 1891. Fosil manusia purba itu diberi nama Pithecanthropus erectus atau yang kemudian dikenal dengan sebutan Manusia Jawa. Manusia Jawa kemudian diklasifikasikan ke dalam Homo erectus.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pada 2013 perdebatan soal Homo erectus kembali mengemuka saat terjadinya penemuan tengkorak manusia purba di Dmanisi, Georgia, sekitar 93 kilometer di baratdaya Tbilisi. Karena variasi pada temuan tengkorak di Dminisi, para ahli ada yang menyebutkan bahwa Homo erectus memiliki banyak varian. Di dalamnya termasuk Homo ergaster, Homo rudolfensis, dan Homo habilis.
Harry mengatakan masih banyak hal yang belum jelas dari temuan tersebut. Uraian tentang karakter fisik belum jelas dan radiometric dating terhadapnya pun belum dilakukan. Karena keterbatasan data itu, terlalu banyak ketidakpastian di seputar temuan tersebut.
“Yang bikin bingung lagi, dugaan adanya perlakuan terhadap si mati, padahal perilaku kubur seperti ini belum ada pada Homo habilis dan Homo erectus, dua spesies manusia purba tertua,” kata Harry, kepada CNN Indonesia, Jumat (11/9). “Untuk itu kita sebaiknya menunggu kemajuan penelitian, baik terhadap fisik manusianya maupun temuan asosiasi dan konteksnya.” (ded/ded)