Dana tersebut akan dimanfaatkan Stockbit untuk mengembangkan aplikasi perangkat mobile, pengembangan produk, mendorong pemasaran, dan merekrut karyawan baru.
Stockbit merupakan paltform berbasis komputasi awan untuk membantu trader dan investor menganalisis saham di Indonesia. Dari analisis paltform ini, para trader dan investor dapat membuat keputusan investasi di Bursa Efek Indonesia (IDX).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Baca juga: Menkominfo Terus Bujuk Konglomerat Investasi di Startup
Perusahaan ini didirkan dua tahun lalu oleh Wellson Lo yang kini menjabat sebagai CEO Stockbit dan Johny Susanto sebagai CTO. Keduanya bertemu di Melbourne, Australia, pada 2006.
Ia membangun layanan ini untuk menyediakan data dan teknologi yang mudah diakses bagi pemain pasar saham.
Stockbit memerolah pendapatan dari model langganan freemium. Saat ini, Stockbit mengklaim hampir 10 persen dari total investor retail terdaftar di Indonesia, menggunakan pelanggan Stockbit dan mereka menghabiskan waktu 8 menit setiap kunungan. Perusahaan mencatat 15 persen pertumbuhan organik tiap bulannya dalam hal jumlah pengguna unik.
Menurut Andrias Ekoyuono, VP of Business Development di Ideosource, Stockbit menarik perhatian mereka karena memberi ranah permainan yang lebih adil antara investor institusi dan retail di Indonesia.
“Mereka juga berada di pasar yang akan berkembang pesat ke depannya, hal ini tercermin dari target Otoritas Jasa Keuangan yang ingin menarik hingga lima juta investor retail pada tahun 2017," ujar Andrias.
Sebelum diberi pendanaan oleh Ideosource, kedua pendiri memakai tabungan mereka untuk membangun Stockbit. Wellson dan Johny mengaku telah ditolak banyak investor, tetapi mereka gigih membangun perusahaan dengan melakukan perubahan strategi sampai mengembangkan model bisnis berkesinambungan. (adt)