"Kami sangat terganggu ketika mengetahui kanal publik Telegram telah digunakan oleh ISIS untuk menyebarkan propagandanya," respons Telegram.
Sejak Rabu (18/11), kanal jaringan ISIS ini telah diblokir dan pesan-pesan yang ada sebelumnya telah dihapus, mengutip dari Reuters.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lihat juga:Dua Kelompok Peretas Gempur ISIS |
Beberapa kanal ISIS yang ditemukan ternyata memiliki lebih dari 10 ribu pengikut, seperti dikemukakan Rita Katz, Direktur dari Bethesda, Maryland SITE Intelligence Group yang ikut memantau jaringan komunikasi kelompok garis keras ini.
Peristiwa ini pun sempat membuat para anggota ISIS meningkatkan kewaspadaannya dalam berkomunikasi.
Seperti dilaporkan CNN Money sebelumnya, Telegram memang menjadi salah satu platform komunikasi yang populer di kalangan simpatisan ISIS untuk menyebarluaskan pesan kepada anggotanya di seluruh penjuru dunia. Hal ini dikarenakan tingkat keamanan aplikasi yang "menjamin" kerahasiaan pesan yang disebarluaskan kelompok teroris ini.
![]() |
"Aplikasi ini adalah hal yang sedang hangat dibicarakan di antara para pelaku jihad," kata Laith Alkhouri, Direktur Riset Flashpoint Global Partners.
Menyikapi hal tersebut, Telegram mengatakan bahwa memang pada dasarnya aplikasi mereka dibuat untuk menyediakan platform komunikasi yang aman serta dapat digunakan oleh pengguna di seluruh dunia.
Telegram memungkinkan penggunanya untuk saling mengirim pesan, foto, dan data serta membuat kelompok berbicara dengan anggota yang bisa mencapai 200 orang. Pesan-pesan yang dikirimkan pun akan hilang dengan sendirinya dan terjamin keamanannya dengan teknologi enkripsi.
Namun, terkait masalah penyalahgunaan yang dilakukan oleh kelompok teroris ini, Telegram menyatakan tidak akan tinggal diam dan akan terus melakukan upaya dalam memberantas penyalahgunaan aplikasi oleh kelompok-kelompok radikal seperti ISIS.
Aplikasi ini adalah hal yang sedang hangat dibicarakan di antara para pelaku jihadLaith Alkhouri, Direktur Riset Flashpoint Global Partners. |
Mereka memastikan hanya akan memblokir kelompok terorisme, terutama yang berkaitan dengan ISIS dan tidak akan memblokir pengguna lainnya yang menggunakan aplikasi ini untuk mengemukakan pendapatnya.
Penyalahgunaan aplikasi pengirim pesan dengan enkripsi ini memang sedang menjadi tajuk pembicaraan utama di dunia internasional, khususnya setelah terjadi peristiwa berdarah di Paris pada 13 November lalu yang menewaskan ratusan korban jiwa.
Pavel Durov pun sempat kembali mengungkapkan bela sungkawanya melalui posting di akun Instagram pada Selasa (17/11).
"Saya turut berduka cita bersama dengan orang-orang yang ada di salah satu kota paling indah di dunia."
(eno)
