Pemerintah telah menetapkan pembangunan jaringan serat optik dalam Palapa Ring dibagi dalam tiga paket, yaitu paket Barat, Tengah, dan Timur.
“Sementara diskusinya antara tengah dan barat. Atau dua-duanya,” kata Presiden Direktur dan CEO Indosat Ooredoo, Alexander Rusli usai jumpa pers di Jakarta, Selasa (24/11).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selanjutnya, konsorsium ini akan berbicara soal model bisnis pembagian kerja serta meminta bantuan insentif dari pemerintah.
Jika sebuah kabel laut putus, Alexander mengatakan perbaikannya bisa makan waktu sebulan karena membutuhkan kapal khusus untuk menjangkaunya. Berbeda dengan kabel serat optik di darat yang masalahnya bisa diselesaikan secara cepat.
“Kalau kita bicara bisnis model, yang masuk akal itu harus dihitung kalau ada masalah. Masalah-masalah itu harus diantisipasi dalam bentuk angka,” tutur Alexander.
Pembangunan kabel serat optik sebagai jaringan tulang punggung telekomunikasi rencananya dilakukan di 50 sampai 60 kabupaten kota di Indonesia yang total nilanya mencapai US$ 230,64 juta.
Selain konsorsium yang dipimpin XL, sejumlah perusahaan yang telah mengikuti prakualifikasi Palapa Ring adalah Telkomsel dan iForte Solusi Infotek. Selain itu ada pula empat konsorsium, meliputi: Konsorsium Mora Telematika Indonesia—Ketrosden Triasmitra, Konsorsium Super Sistem Ultima—Huawei, Konsorsium Pandawa Lima, Konsorsium Matra Mandiri Prima—Hitachi High Technologies Indonesia—Partibandar Utama.
Proyek Palapa Ring bakal dikerjakan dengan skema Kerjasama Pemerintah dengan Badan Usaha (KPBU) yang didasarkan pada Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 38 Tahun 2015 tentang Kerja Sama Pemerintah dengan Badan Usaha dalam Penyediaan Infrastruktur.
Presiden Direktur dan CEO Indosat Ooredoo, Alexander Rusli. (CNN Indonesia/Aditya Panji) |
Dalam hal ini, para pemenang lelang atau pihak yang ditunjuk langsung bakal membentuk KPBU dengan badan hukum Perseroan Terbatas (PT).
Menkominfo akan berperan sebagai Penanggungjawab Proyek Kerjasama (PJPK) untuk membiayai sejumlah bagian kebutuhan dana pembangunan dan bisa memberi insentif kepada pihak yang terlibat dengan memanfaat dana USO. (adt/eno)
Presiden Direktur dan CEO Indosat Ooredoo, Alexander Rusli. (CNN Indonesia/Aditya Panji)