Pesawat nirawak Cassini milik NASA memotret fenomena keduanya sedang berada dalam satu garis di atas cincin Saturnus, di mana Tethys merupakan bulan yang berada di belakang Enceladus.
Dari laporan NASA, Cassini yang memang merupakan wahana penjelajah area Saturnus kala itu sedang berada di jarak 2,09 juta kilometer dari Enceladus dan 2,5 juta kilometer dari Tethys.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Enceladus sendiri adalah 'dunia' penuh es dan memiliki samudera di atas sub permukaannya yang membentang di jagatnya. Kerangka esnya patah di bagian kutub selatan sehingga membuat partikel air dari lautnya muncrat ke antariksa dan menciptakan partikel cincin di sekitar Saturnus.
Sementara Tethys yang luasnya 1.062 kilometer itu merupakan objek berkawah yang memiliki goresan-goresan aneh dari komponen yang warnanya kemerahan di permukaannya. Tim ilmuwan belum yakin kira-kira akan komponen mrah tersebut, namun kemungkinan sifatnya tidak permanen.
"Goresan merah tersebut mungkin secara geologis masih muda karena mereka memecah kawah yang lebih tua usianya, namun kami tidak tahu seberapa tua," ujar ilmuwan yang bekerja dalam pengembangan Cassini, Paul Helfenstein.
Ia melanjutkan, "jika noda tersebut hanya lapisan tipis di permukaan es Tethys, maka kemungkinan ia bisa dihapus dalam jangka waktu pendek."
Cassini yang telah mengobservasi Saturnus sejak 2004 silam dan masih memiliki waktu sekitar dua tahun lalu hingga misinya selesai padda 2017 mendatang ketika bahan bakar pesawat nirawak ini habis.
(tyo)