TSM mengaku tak akan 'pilih kasih' terhadap vendor yang tertarik menggunakan sistem operasi ini. "Kami tidak membatasi brand. Mau dari lokal atau global, kami sangat welcome," ucap TSM Director of Business Development, Joegianto dalam jumpa pers di kawasan Senopati, Jakarta Selatan, Kamis (17/12).
Joegianto pun memberi bocoran, sejauh ini ID3OS (baca: Ideos) sudah menjalin kerjasama dengan dua produsen lokal agar sistem operasinya bisa berjalan di kedua produk. Namun, ia tak mau memberi rinciannya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sistem operasi ini dirancang dengan mengutamakan fitur keamanan, salah satunya adalah ketersediaan panic button atau tombol panik yang bisa diaktifkan dengan mudah.
Untuk memakainya, pengguna ponsel cukup mengetuk (tap) layar ponsel sebanyak dua kali dan geser (slide) layar. ID3OS kemudian akan memunculkan tombol besar warna merah tulisan "Panic Button" yang bisa diklik untuk memberi informasi lokasi pemilik ponsel.
Fitur ini, menurut Joegianto, terinspirasi dari peristiwa nahas kecelakaan pesawat yang hingga kini belum ditemukan lantaran tak diketahui lokasi terakhir terdeteksi.
"Sekali Anda memencet tombol panik itu, 10 nomor ponsel yang Anda daftarkan akan menerima SMS informasi lokasi Anda secara geografis," terang Joegianto.
Selain mengirim SMS, fitur tombol panik ini juga bisa mengirim lokasi ke media sosial milik teman dan kerabat yang sebelumnya sudah didaftarkan. Hal ini bisa dijalankan apabila si ponsel mendapatkan koneksi internet yang stabil.
Menurut rencana, ID3OS akan dirilis pada Januari mendatang dalam versi premium untuk para vendor yang bekerjasama, kemudian disusul oleh versi live untuk publik.
Di masa depan, TSM berharap ID3OS dapat bisa bersaing dengan Android, yang menurut lembaga riset GfK telah menguasai 93 persen pasar ponsel pintar di Indonesia pada kuartal ketiga 2015. (adt/tyo)