“Kami kecewa karena Free Basics kini sudah tidak tersedia di Mesir,” ungkap Facebook yang dimuat dalam International Business Times.
Menurut laporan Internet.org, Mesir tercatat sebagai salah satu negara yang menghadapi tantangan terbesar terkait penetrasi Internet.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Banyak juga kritik yang menilai bahwa layanan ini sarat akan motif terselubung dari perusahaan yang dipimpin oleh Mark Zuckerberg.
Layanan Free Basics dimulai sejak dua bulan lalu di Mesir, bekerja sama dengan operator telekomunikasi Etisalah Egypt sekaligus partner dari Facebook di Mesir. Setelah diputus, kini sekitar 1 juta orang yang baru pertama kali menerima akses Internet di Mesir harus 'gigit jari' karena tidak ada lagi akses internet gratis di sana.
Perusahaan riset McKinsey memperkirakan setidaknya masih terdapat 4,2 milyar penduduk dunia yang masih 'offline'. 75 persen populasi yang belum 'tersentuh' internet ini tersebar di 20 negara.
Diperkirakan sebesar 64 persen dari populasi 'offline' ini tinggal di daerah pedesaan. Lebih dari separuh populasi ini memiliki pendapatan rendah di bawah rata-rata garis kemiskinan negaranya masing-masing. Mereka terdiri dari 18 persen penduduk berusia senja di atas usia 55 tahun, di mana 28 persen di antaranya buta huruf. Mayoritas populasi yang tidak tersentuh Internet ini terdiri dari 52 persen kaum perempuan.
Bukan hanya di Mesir, upaya Internet.org dari Facebook juga ditentang di beberapa negara, termasuk di India di mana banyak pihak menilai tidak netral dan mengancam demokrasi suatu negara.
Sejauh ini Internet.org telah beroperasi di 37 negara meliputi wilayah Afrika, Asia, dan Amerika Latin. Di Indonesia, Internet.org bekerjasama dengan Indosat. (adt/eno)